SURABAYA, PustakaJC.co – Rasa malas tidak selalu identik dengan kurangnya kemauan untuk bekerja atau beraktivitas. Psikolog menilai kondisi yang kerap disebut sebagai "malas" justru bisa menjadi sinyal tubuh sedang mengalami kelelahan, stres, tekanan emosional, atau tuntutan produktivitas yang berlebihan.
Psikolog Devon Price menjelaskan, banyak orang terburu-buru melabeli dirinya sebagai pemalas ketika kesulitan memulai pekerjaan. Padahal, menurutnya, kondisi tersebut sering kali dipicu oleh faktor psikologis maupun fisik yang perlu dipahami terlebih dahulu.
"Yang tampak sebagai kemalasan sering kali merupakan tanda bahwa seseorang membutuhkan istirahat, dukungan, atau cara kerja yang lebih sehat," jelas Price sebagaimana dikutip dari Psychology Today.
Karena itu, memahami akar penyebab rasa malas dinilai menjadi langkah awal sebelum mencari solusi agar kondisi tersebut tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Psikolog menyarankan masyarakat berhenti menyalahkan diri sendiri ketika kehilangan semangat bekerja. Sebaliknya, seseorang perlu bertanya apakah dirinya sedang kelelahan, terlalu banyak beban pekerjaan, atau justru mengalami kecemasan terhadap tugas yang dihadapi.
Selain itu, kebutuhan tubuh untuk beristirahat juga tidak boleh diabaikan. Kurang tidur, bekerja tanpa jeda, dan tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat menurunkan motivasi serta membuat seseorang sulit berkonsentrasi.
Perfeksionisme juga menjadi salah satu penyebab seseorang tampak malas. Keinginan menghasilkan pekerjaan yang sempurna justru sering membuat seseorang menunda memulai pekerjaan karena takut gagal atau tidak memenuhi ekspektasi.
Psikolog menyarankan agar pekerjaan dimulai dari langkah-langkah kecil daripada terus menunggu waktu yang dianggap paling ideal.
Cara berikutnya adalah mengenali kondisi emosional yang sedang dialami. Rasa malas bisa menjadi tanda adanya stres berkepanjangan, kelelahan emosional, atau hilangnya motivasi akibat beban yang terlalu besar.
Dengan memahami kondisi tersebut, seseorang dapat menentukan langkah yang lebih tepat, termasuk mengurangi tekanan atau mencari dukungan dari orang terdekat.
Selain itu, psikolog mengingatkan agar seseorang tidak mengukur nilai dirinya hanya dari tingkat produktivitas. Istirahat, menikmati waktu luang, dan menjaga kesehatan mental merupakan bagian penting dari kehidupan yang seimbang.
Meski demikian, rasa malas sesekali merupakan hal yang wajar dan tidak selalu menunjukkan adanya gangguan psikologis.
Namun apabila kehilangan motivasi, kelelahan emosional, atau kesulitan beraktivitas berlangsung dalam waktu lama hingga mengganggu pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental untuk mendapatkan penanganan yang tepat. (int)