ITS Kembangkan Alat Deteksi Minyak Babi Praktis dengan Indikator Perubahan Warna

komunitas | 26 Mei 2026 20:53

ITS Kembangkan Alat Deteksi Minyak Babi Praktis dengan Indikator Perubahan Warna
INOVATIF: Cara kerja strip test kit pendeteksi kandungan minyak babi yang dikembangkan tim peneliti ITS. (dok radarsurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Kepastian halal pada produk makanan masih menjadi perhatian penting bagi masyarakat Muslim, terutama saat berada di wilayah atau negara dengan mayoritas non-Muslim. Kondisi tersebut kerap memunculkan keraguan terhadap bahan baku yang digunakan dalam makanan yang dikonsumsi. Selasa, (26/5/2026).

Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan alat pendeteksi kandungan minyak babi yang praktis, cepat, dan ekonomis untuk digunakan masyarakat luas.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Ruri Agung Wahyuono bersama tim dari Pusat Studi Halal ITS, termasuk Agus Muhamad Hatta. Inovasi ini hadir sebagai alternatif dari metode deteksi umum seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) maupun sistem elektrokimia yang dinilai lebih rumit dan membutuhkan biaya tinggi.

“Jadi akan terjadi perubahan warna dari reagen akibat bereaksi secara kimia dengan kandungan minyak yang ditarget,” ujar Ruri. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Selasa (26/5/2026).

Ruri menjelaskan, alat yang dikembangkan memiliki bentuk menyerupai strip test seperti alat pengukur pH air. Cara kerjanya memanfaatkan perubahan warna berbasis material nano sehingga pengguna dapat mengetahui hasil deteksi tanpa harus melakukan pengujian laboratorium yang memerlukan waktu lama.

Pengembangan alat tersebut dilakukan melalui serangkaian eksperimen untuk menemukan formulasi reagen yang sensitif terhadap kandungan minyak babi pada bahan pangan.

Teknologi yang digunakan berbasis optis sehingga hasil pemeriksaan dapat diketahui secara langsung melalui perubahan warna pada strip test.

Menurut Ruri, inovasi tersebut tidak hanya berpotensi digunakan untuk mendeteksi zat haram, tetapi juga dapat dikembangkan untuk mendeteksi berbagai kandungan pemicu alergi pada makanan.

“Tidak hanya terbatas halal dan haram, bahan pemicu alergi lainnya juga akan kami kembangkan dengan metode kolorimetri yang sama, hanya saja formulasi reagen dan katalisnya berbeda,” ungkapnya.

Kemudahan penggunaan alat tersebut diharapkan mampu membantu pelancong Muslim maupun masyarakat yang memiliki riwayat alergi agar lebih tenang dalam memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi.

Selain itu, inovasi tersebut juga dinilai dapat mendukung pelaku UMKM kuliner dalam meningkatkan jaminan kehalalan serta keamanan produk yang dipasarkan.

Tim peneliti ITS juga berkomitmen melakukan produksi mandiri mulai dari bahan baku hingga proses perakitan alat. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat ekosistem entrepreneurial university sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Menariknya, harga alat pendeteksi tersebut diperkirakan cukup terjangkau, yakni sekitar Rp10 ribu untuk satu strip sekali pakai. Harga tersebut masih berpotensi turun apabila produksi dilakukan dalam skala besar. (frchn)