SPPG Diinstruksikan Tambah Porsi Telur MBG, Pemerintah Upayakan Stabilkan Harga di Tingkat Peternak

komunitas | 30 Mei 2026 23:25

SPPG Diinstruksikan Tambah Porsi Telur MBG, Pemerintah Upayakan Stabilkan Harga di Tingkat Peternak
Peternak mengumpulkan telur dari ayam ras petelur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,  (Dok jawapos) 

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah mewajibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menambah porsi telur dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini dilakukan untuk meningkatkan penyerapan produksi telur nasional sekaligus membantu menjaga stabilitas harga di tingkat peternak. Sabtu, (30/5/2026). 

Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani, mengatakan penurunan harga telur saat ini disebabkan melimpahnya produksi yang belum diimbangi dengan penyerapan pasar.

"Harga telur saat ini memang sedang turun karena produksi melimpah, sementara penyerapannya belum optimal," ujar Indyah di Surabaya, Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Sabtu, (30/5/2026). 

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena banyak peternak meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi kebutuhan hari raya dan program MBG. Namun, realisasi permintaan pasar tidak sesuai perkiraan sehingga stok telur menumpuk dan harga mengalami penurunan.

Sebagai langkah penanganan, Pemprov Jawa Timur bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, serta pemerintah kabupaten dan kota memperkuat penyerapan telur melalui program MBG dengan menambah porsi telur dalam menu yang disajikan.

"Untuk mengatasi kondisi tersebut, penyerapan telur melalui program MBG terus diperkuat agar produksi peternak dapat terserap lebih optimal," katanya.

Selain itu, pemerintah juga mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi protein hewani, khususnya telur, guna membantu menyerap hasil produksi peternak lokal.

Indyah menambahkan, peternak saat ini juga menghadapi tingginya biaya produksi akibat kenaikan harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak.

"Jagung menyumbang sekitar 50 hingga 60 persen biaya produksi pakan, sehingga kenaikan harga sangat berpengaruh terhadap usaha peternak," ungkapnya.

[Halaman]

Untuk membantu peternak, pemerintah menyiapkan program subsidi jagung melalui Bulog dan Bapanas. Melalui skema tersebut, peternak diharapkan dapat memperoleh jagung dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram melalui koperasi.

Di sisi lain, Pemprov Jatim juga terus mendorong perluasan pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Jepang.

"Kami berharap peningkatan penyerapan dalam negeri, subsidi pakan, dan pembukaan pasar ekspor dapat membantu menstabilkan harga telur sehingga peternak tetap memperoleh keuntungan," pungkas Indyah. (frchn)