Angklung Satukan Keberagaman, Tebarkan Semangat Toleransi Lintas Agama

komunitas | 04 Juni 2026 14:49

Angklung Satukan Keberagaman, Tebarkan Semangat Toleransi Lintas Agama
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Penggiat Angklung Indonesia (PPAI) H. Sam Udjo(kanan), Sekretaris Jenderal DPP PPAI Dr. H. Gunawan Undang (tengah), dan Ketua DPW PPAI Provinsi Jawa Timur Andy Wira Sujana (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan usai kegiatan Instrumen Musik Angklung Islami (Ismail) yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus DPW PPAI Jawa Timur dan DPD Surabaya, Sidoarjo, serta Gresik di Gedung Wanita Candra Kencana Surabaya, Kamis, (4/6/2026). (foto ivan)

SURABAYA, PustakaJC.co – Momentum Hari Raya Idul Adha dimanfaatkan sebagai ruang memperkuat persaudaraan dan toleransi melalui seni budaya. Sebanyak 200 pemain angklung dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik berkumpul dalam kegiatan Instrumen Musik Angklung Islami (Ismail)yang dirangkaikan dengan pelantikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perhimpunan Penggiat Angklung Indonesia (PPAI) Provinsi Jawa Timur serta Dewan Pengurus Daerah (DPD) Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, Kamis, (4/6/2026).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketua DPW PPAI Provinsi Jawa Timur, Andy Wira Sujana, menjelaskan bahwa Ismail bukanlah nama komunitas, melainkan tema kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Raya Idul Adha melalui permainan angklung bersama.

 

“Ismail adalah singkatan dari Instrumen Musik Angklung Islami. Selain memperingati Idul Adha, momentum ini juga kami manfaatkan untuk pelantikan DPW PPAI Jawa Timur dan tiga DPD di Surabaya Raya,” ujar Andy kepada Jurnalis PustakaJC.co, Kamis, (4/6/2026).

 

Menurut Andy, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa seni budaya mampu menjadi jembatan kebersamaan di tengah keberagaman. Dari sekitar 200 peserta yang hadir, tidak hanya berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga terdapat peserta beragama Hindu, Kristen, Katolik, dan Buddha.

 

“Kami ingin menunjukkan bahwa angklung menjadi sarana mempererat silaturahmi dan toleransi antarumat beragama. Lagu yang dimainkan tidak hanya bernuansa Islami, tetapi juga lagu rohani universal yang dapat dimainkan bersama,” katanya.

 

 

Andy mengungkapkan, Jawa Timur memiliki potensi besar dalam pengembangan angklung. Berdasarkan pendataan yang dilakukan pihaknya, terdapat lebih dari 100 sanggar dan komunitas angklung yang tersebar di berbagai daerah.

 

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, PPAI Jawa Timur telah menyiapkan sejumlah program kerja hingga akhir tahun. Salah satunya adalah peringatan Hari Angklung Sedunia pada 16 November mendatang dengan membawa sekitar 150 pemain angklung Jawa Timur untuk tampil di Bali.

 

“Kami berencana berkolaborasi dengan Institut Seni Indonesia Denpasar, tampil di Garuda Wisnu Kencana, serta beberapa lokasi lainnya. Ini bagian dari upaya memperluas syiar budaya angklung,” ujarnya.

 

Tak hanya itu, Andy juga menargetkan lahirnya prestasi baru melalui pemecahan Rekor MURI. Setelah sebelumnya berhasil mencatatkan rekor pada 2024 dengan melibatkan peserta berusia 3 hingga 81 tahun, ia optimistis Jawa Timur mampu kembali mencetak sejarah.

 

“Saya berharap ke depan setiap tahun ada kegiatan besar yang mampu mengangkat angklung yang dapat memecahan Rekor MURI sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat luas,” katanya.

 

 

 

 

 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PPAI, Dr. H. Gunawan Undang, menegaskan bahwa angklung merupakan warisan budaya dunia yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

 

Menurutnya, angklung tidak hanya bernilai seni, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan sosial yang sangat kuat.

 

“Kalau bermain angklung tidak kompak, maka tidak akan menghasilkan harmoni. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, konsentrasi, disiplin, saling menghargai, dan ketaatan. Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan angklung,” ujarnya.

 

Gunawan menilai Jawa Timur memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pengembangan angklung nasional. Tingginya jumlah komunitas dan sanggar menjadi modal penting untuk memperluas gerakan pelestarian budaya.

 

“Jawa Timur ini seperti bibit unggul yang ditanam di tanah yang subur. Potensinya luar biasa dan sangat menjanjikan untuk perkembangan angklung ke depan,” kata Sekjen Dewan Pimpinan Pusat PPAI ini.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa Kementerian Kebudayaan menargetkan terbentuknya asosiasi angklung internasional pada 2027. Namun sebelum itu, pengembangan angklung di Indonesia harus semakin merata dan kuat.

 

Selain itu, PPAI terus mendorong terbentuknya kepengurusan di berbagai daerah agar pembinaan komunitas dan sanggar angklung dapat berjalan lebih terorganisir.

 

 

 

 

 

 

 

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PPAI, H. Sam Udjo, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan angklung sebagai media pendidikan, hiburan, sekaligus sarana memperkuat persaudaraan.

 

Menurutnya, angklung bukan hanya milik satu daerah, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia.

 

“Saya membaca dalam sejarah bahwa Banyuwangi memiliki tradisi angklung sendiri. Jadi jangan melihat angklung hanya milik satu daerah. Ini adalah budaya Indonesia yang harus kita jaga dan kembangkan bersama,” ujarnya.

 

Sam Udjo juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan bahan baku angklung melalui pelestarian bambu. Menurutnya, pengembangan angklung harus dilakukan dari hulu hingga hilir agar tetap lestari.

 

“Kalau kita menikmati hasilnya saja tetapi tidak menjaga bambunya, maka suatu saat bisa punah. Karena itu pelestarian bambu, pelatihan pembuatan angklung, dan pengembangan industri kreatif harus berjalan beriringan,” katanya.

 

 

Ia berharap Jawa Timur dapat menjadi salah satu sentra pengembangan angklung nasional, tidak hanya dalam hal pertunjukan, tetapi juga pendidikan, pelatihan instruktur, hingga industri kreatif berbasis bambu.

 

“Angklung bisa menjadi media pendidikan bagi generasi muda, sarana hiburan dan aktivitas positif bagi lansia, serta mempererat persaudaraan antarmasyarakat. Mudah-mudahan perkembangannya di Jawa Timur semakin cepat dan semakin luas,” pungkasnya.

 

 

Dengan terbentuknya DPW PPAI Jawa Timur dan tiga DPD di Surabaya Raya, para penggiat angklung optimistis pelestarian budaya angklung akan semakin berkembang. Melalui semangat Idul Adha, denting angklung diharapkan terus menjadi simbol kebersamaan, toleransi, dan harmoni di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. (ivan)