SURABAYA, PustakaJC.co - Upaya mitigasi bencana di Jawa Timur terus diperkuat. Kali ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memburu teknologi pendeteksi gempa bumi berbasis Early Warning System (EWS) Radon yang diklaim mampu membaca tanda-tanda aktivitas gempa sebelum bencana terjadi.
Rasa penasaran terhadap teknologi tersebut membawa rombongan BPBD Jatim melakukan kunjungan kerja ke BPBD Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kunjungan berlangsung selama dua hari dan dipimpin langsung Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto.
Dalam kunjungan itu, rombongan mendapatkan pemaparan mengenai berbagai program penanggulangan bencana yang telah dijalankan BPBD Klaten, termasuk penerapan teknologi deteksi dini gempa berbasis gas radon.
Gatot Soebroto mengatakan, dirinya sengaja mengajak sejumlah tim pencegahan BPBD Jatim untuk mempelajari langsung cara kerja teknologi tersebut sebagai bagian dari penguatan sistem mitigasi bencana di Jawa Timur.
Selain dikenal sebagai daerah dengan program 100 persen Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana), Klaten juga berhasil menjalankan sejumlah inovasi penanggulangan bencana seperti pemasangan alat EWS berbasis gas radon untuk mendeteksi potensi gempa bumi.
Teknologi tersebut bekerja dengan memantau lonjakan kadar gas radon yang muncul dari rekahan batuan sebelum terjadinya aktivitas gempa.
Dalam agenda kunjungan itu, tim BPBD Jatim juga berdiskusi dengan para akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terlibat dalam pengembangan alat pendeteksi tersebut.
Guru Besar UGM, Prof. Sunarno, menjelaskan bahwa setiap aktivitas tektonik dapat menyebabkan gas radon keluar dari dalam kerak bumi menuju permukaan dengan intensitas tertentu. Kondisi itu menjadi salah satu indikator yang dapat diamati sebagai peringatan dini.
Alat yang dikembangkan tim UGM mampu menangkap lonjakan kadar gas radon secara akurat sebelum patahan bumi bergeser. Teknologi tersebut diharapkan mampu memberikan waktu antisipasi sebelum gempa terjadi.
Menurut Gatot, akurasi sistem deteksi dini sangat penting untuk menyelamatkan masyarakat dari risiko bencana. Karena itu, BPBD Jatim ingin mempelajari lebih jauh efektivitas teknologi tersebut sebelum diterapkan secara lebih luas.
Sebagai tindak lanjut, BPBD Jatim berencana melakukan kunjungan serupa ke sejumlah wilayah lain yang memiliki karakteristik kerawanan bencana berbeda, termasuk daerah pesisir selatan dan kawasan dengan tingkat aktivitas seismik tinggi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana berbasis teknologi guna melindungi masyarakat dari ancaman gempa bumi.
(int)