SURABAYA, PustakaJC.co – Menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), wacana mengenai arah pembaruan organisasi kembali mengemuka. Salah satunya datang melalui artikel opini kolumnis Anwar Mujahidin yang mengajak NU memperkuat reformasi organisasi sekaligus memperbarui pendekatan pemikiran keagamaan agar tetap relevan dengan tantangan zaman.
Dalam opininya yang dipublikasikan NU Online, Sabtu (1/8), Anwar menilai NU memiliki rekam jejak panjang sebagai organisasi Islam yang mampu memadukan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dengan tradisi lokal. Menurutnya, pendekatan tersebut telah berkontribusi menjaga kerukunan masyarakat, memperkuat nilai kebangsaan, dan menjadikan NU sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (2/8/2026).
Meski demikian, ia berpandangan bahwa NU saat ini menghadapi tantangan baru yang tidak hanya berkaitan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga tata kelola organisasi. Salah satu isu yang disorot ialah menguatnya pragmatisme politik di kalangan elite organisasi yang dinilai berpotensi mengurangi independensi NU sebagai kekuatan masyarakat sipil.
Menurut Anwar, semangat Khittah NU 1926 yang menempatkan organisasi pada posisi mandiri dan memiliki jarak kritis terhadap kekuasaan perlu terus dijaga. Ia menilai kedekatan sebagian elite dengan struktur pemerintahan dan berbagai lembaga negara berpotensi memunculkan persepsi bahwa fungsi kontrol sosial organisasi menjadi berkurang.
Selain persoalan kelembagaan, Anwar juga menyoroti perlunya pembaruan cara pandang dalam memahami ajaran keagamaan. Ia berpandangan bahwa diskursus keislaman di lingkungan NU perlu lebih diarahkan pada upaya menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, pendidikan, hingga tantangan perkembangan teknologi.
Dalam tulisannya, ia mengingatkan bahwa tradisi intelektual NU selama ini memiliki modal besar untuk terus berkembang melalui pendekatan yang metodologis. Karena itu, menurutnya, warisan pemikiran para ulama tidak cukup dipahami sebagai kumpulan pendapat yang bersifat tetap, tetapi juga sebagai metode berpikir yang mampu melahirkan solusi sesuai perkembangan zaman.
Anwar juga menilai generasi muda NU memiliki peran penting dalam membawa semangat pembaruan tersebut. Dengan semakin banyak kader yang berkiprah di berbagai sektor, ia berharap lahir gagasan-gagasan baru yang tetap berpijak pada nilai-nilai Aswaja sekaligus responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Di bidang organisasi, ia mendorong penguatan sistem tata kelola yang lebih profesional, transparan, dan berbasis kompetensi. Menurutnya, mekanisme tersebut akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus menjaga NU tetap menjadi organisasi yang independen dan berorientasi pada pelayanan umat.
Selain itu, budaya dialog dan penyampaian kritik secara konstruktif juga dinilai perlu terus dikembangkan. Dalam pandangannya, penghormatan terhadap ulama dan pemimpin organisasi tidak menutup ruang bagi evaluasi terhadap kebijakan maupun keputusan yang diambil dalam kepentingan publik.
Anwar menegaskan bahwa tradisi yang menjadi identitas NU tetap perlu dipertahankan sebagai bagian dari kekayaan budaya Islam Nusantara. Namun, pelestarian tradisi tersebut harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas organisasi dalam merespons berbagai persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, hingga kebangsaan.
Menurutnya, Muktamar Ke-35 NU dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan arah pembaruan yang mampu menjawab kebutuhan warga Nahdliyin dan masyarakat Indonesia secara lebih luas.
Melalui artikel tersebut, Anwar berharap NU dapat terus mempertahankan perannya sebagai organisasi keagamaan yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghadirkan pemikiran yang adaptif, kritis, dan berorientasi pada kemaslahatan umat di tengah perubahan zaman. (ivan)