SURABAYA, PustakaJC.co — Pemerintah Kota Surabaya resmi menutup aktivitas pasar informal yang selama ini dikenal sebagai “pasar maling” di kawasan Wonokromo. Penertiban dilakukan karena keberadaan pedagang kaki lima di sepanjang badan jalan dinilai mengganggu arus lalu lintas dan memicu kemacetan, Jumat (24/4/2026).
Langkah ini sekaligus mengakhiri perjalanan panjang pasar yang pernah menjadi pusat jual beli barang bekas dengan harga terjangkau. Meski kerap mendapat stigma negatif, tidak seluruh barang yang diperdagangkan berasal dari hasil kejahatan.
Seorang warga senior, Suwardi, menuturkan bahwa pasar tersebut dahulu ramai oleh transaksi barang elektronik hingga kebutuhan rumah tangga bekas.
“Dulu memang ada yang jual barang ilegal, tapi tidak semuanya. Yang banyak itu barang bekas atau seken, apa saja ada di situ dan memang murah,” ujarnya, dikutip dari surabaya.jawapos.com, Jumat (24/4/2026).
Kejayaan pasar ini juga tidak lepas dari kondisi lingkungan sekitar yang dahulu dikenal sebagai kawasan hiburan malam kelas bawah. Di sepanjang rel kereta sisi timur Wonokromo, pernah berdiri lapak-lapak prostitusi dan tempat nongkrong yang menjual minuman keras.
“Di situ banyak warung, orang nongkrong sambil minum bir, arak, dan sebagainya,” kata Suwardi.
Selain itu, praktik perjudian juga disebut turut meramaikan kawasan tersebut pada malam hari. Aktivitas-aktivitas itu menjadi magnet yang mendatangkan pengunjung sekaligus menghidupkan denyut ekonomi informal di sekitar pasar.
Namun, kondisi berubah drastis setelah penertiban kawasan prostitusi pada masa Wali Kota Tri Rismaharini. Penataan dilakukan bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia sebagai pemilik lahan di sekitar rel.
“Sejak itu pengunjung pasar maling turun drastis, tidak sampai 50 persen. Orang-orang yang biasa datang, termasuk yang main judi, sudah tidak mampir lagi,” jelasnya.
Seiring menurunnya jumlah pengunjung, jumlah pedagang pun ikut menyusut signifikan, dari ratusan menjadi kurang dari 20 orang.
Kini, di era Wali Kota Eri Cahyadi, penutupan pasar dinilai sebagai langkah realistis mengingat aktivitas perdagangan yang sudah tidak lagi hidup.
“Makanya kalau sekarang dibubarkan ya alhamdulillah. Sudah sepi juga,” pungkas Suwardi. (frchn)