SURABAYA, PustakaJC.co – Sebanyak 378 jemaah dan petugas haji Kloter 1 asal Kabupaten Probolinggo tiba di Asrama Haji Debarkasi Surabaya pada Senin (1/6) malam. Namun, kepulangan rombongan tersebut belum sepenuhnya lengkap karena satu jemaah masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Al Noor, Makkah, sementara satu jemaah lainnya meninggal dunia di Tanah Suci. Selasa, (2/6/2026).
Ketua PPIH Debarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, menjelaskan bahwa jemaah yang masih tertinggal di Makkah mengalami gangguan otot jantung melemah atau heart failure sehingga memerlukan penanganan medis intensif.
“Ada satu jemaah dari Kloter 1 Probolinggo yang masih dirawat di rumah sakit di Makkah. Kami terus memantau perkembangan kesehatannya. Jika kondisinya memungkinkan, yang bersangkutan akan dipulangkan bersama kloter berikutnya,” ujarnya. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Selasa, (2/6/2026).
Selain itu, seorang jemaah berusia 64 tahun dari kloter yang sama dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit. Pemerintah telah melaksanakan badal haji serta memastikan seluruh hak jemaah yang wafat tetap diberikan, termasuk santunan asuransi kematian senilai Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) atau sekitar Rp87 juta.
“Kami turut berduka cita dan mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Hak-hak jemaah yang wafat juga tetap kami penuhi sesuai ketentuan,” kata Anam.
Secara keseluruhan, jumlah jemaah haji Debarkasi Surabaya yang wafat di Tanah Suci hingga saat ini tercatat sebanyak 34 orang. Meski demikian, PPIH menilai penyelenggaraan haji tahun 2026 menunjukkan kondisi kesehatan jemaah yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Anam menyebutkan, pasca pelaksanaan Armuzna, jumlah jemaah yang meninggal dunia hanya empat orang, lebih rendah dibandingkan musim haji 2025 yang mencapai 49 orang.
“Secara data, penyelenggaraan haji tahun 2026 jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya,” tegasnya.
Berdasarkan data PPIH, Kabupaten Pasuruan menjadi daerah dengan jumlah jemaah wafat terbanyak, yakni empat orang. Disusul Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Lamongan yang masing-masing mencatat tiga jemaah meninggal dunia.
Sementara itu, Kota Malang, Kabupaten Jombang, Kabupaten Malang, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Blitar masing-masing melaporkan dua jemaah wafat. Adapun daerah lainnya tercatat masing-masing satu orang, termasuk Kabupaten Probolinggo, Gresik, Sidoarjo, Jember, Magetan, Sumenep, Banyuwangi, Lumajang, Situbondo, Mojokerto, Nganjuk, Kota Madiun, serta Kabupaten Buleleng dan Gianyar di Provinsi Bali. (frchn)