Sejumlah penelitian juga menunjukkan tempe nonkedelai memiliki aktivitas antioksidan yang meningkat setelah fermentasi. Bahkan, beberapa jenis tempe berbahan koro benguk dan koro kratok menunjukkan potensi membantu menjaga tekanan darah melalui penghambatan aktivitas Angiotensin Converting Enzyme (ACE).
Selain itu, kandungan senyawa bioaktif seperti daidzein, kaempferol, asam p-kumarat, serta senyawa fenolik lainnya juga dikaitkan dengan potensi antikanker, antibakteri, hingga membantu mengendalikan kadar gula darah.
BRIN kini mengembangkan riset tempe nonkedelai menggunakan pendekatan metabolomik, metagenomik, dan volatilomik untuk memahami lebih dalam proses fermentasi serta pembentukan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan.
Ririn menegaskan, tempe nonkedelai memiliki prospek besar sebagai pangan fungsional apabila diproduksi secara higienis dan melalui proses fermentasi yang tepat.
"Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor kedelai, memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus mendorong lahirnya berbagai produk pangan sehat berbasis bahan baku lokal," pungkasnya. (int)