Pakar Unair Ingatkan Bahaya Gawai dan Kopi terhadap Kualitas Tidur saat Ramadan

gaya hidup | 19 Februari 2026 18:21

Pakar Unair Ingatkan Bahaya Gawai dan Kopi terhadap Kualitas Tidur saat Ramadan
ilustrasi kurang tidur. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co - Perubahan pola aktivitas selama Ramadan, mulai dari salat tarawih, tadarus hingga sahur, membuat ritme tidur umat Muslim ikut berubah. Namun, kualitas tidur tetap bisa dijaga dengan menghindari paparan gawai dan konsumsi kafein menjelang waktu istirahat.

 

Spesialis Penyakit Dalam dan Imunolog Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr. Ari Baskoro, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas ibadah berdampak pada ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Dilansir dari suarasurabaya.net, Kamis, (19/2/2026).

 

“Aktivitas ini secara otomatis mengubah alokasi waktu dan sistem biologis tubuh sehingga memicu modifikasi homeostasis, terutama pada ritme sirkadian yang mengatur pola tidur manusia,” ujarnya, Kamis, (19/2/2026).

 

 

 

Ia menambahkan, meski durasi tidur cenderung berkurang selama Ramadan, tubuh tetap bisa menjaga kesehatan jika kualitas tidur terpenuhi. Salah satu faktor penting adalah hormon melatonin yang diproduksi kelenjar pineal di otak.

 

Melatonin berperan sebagai antioksidan, pereda nyeri, sekaligus pengatur sistem imun. Produksi hormon ini sangat sensitif terhadap cahaya, terutama paparan blue light dari gawai.

 

“Sebaiknya, jauhkan ponsel setidaknya 30–60 menit sebelum tidur agar otak dapat beralih ke mode istirahat,” jelasnya.

 

 

 

Selain gawai, konsumsi kafein sebelum tidur juga perlu dihindari karena dapat mengganggu siklus tidur dan membuat tubuh sulit rileks. Sebagai gantinya, masyarakat disarankan mandi air hangat, mengatur suasana kamar yang nyaman, dan menjaga jadwal tidur yang konsisten.

 

Riset yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Sciences pada 2024 bahkan menunjukkan bahwa puasa Ramadan berpotensi meningkatkan kadar melatonin dalam darah, yang membantu menjaga kebugaran dan memperkuat sistem imun.

 

Dr. Ari juga menekankan bahwa ibadah yang dijalankan dengan hati tulus dapat memicu produksi hormon bahagia seperti serotonin, dopamin, dan oksitosin, yang berperan menekan hormon stres kortisol.

 

“Kualitas tidur jauh lebih penting daripada kuantitas. Tidur berkualitas ditandai tubuh terasa bugar kembali dan batin yang damai saat terbangun,” pungkasnya.

 

Ramadan pun tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga kesempatan memperbaiki kesehatan fisik dan mental melalui pengaturan pola tidur yang tepat. (ivan)