Donald Trump Sindir Sekutu soal Krisis Energi, Minta Negara Lain Cari Minyak Sendiri di Tengah Konflik dengan Iran

gaya hidup | 01 April 2026 17:01

Donald Trump Sindir Sekutu soal Krisis Energi, Minta Negara Lain Cari Minyak Sendiri di Tengah Konflik dengan Iran
Presiden Donald Trump menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih. (dok Jawapos)

SURABAYA,PustakaJC.co – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah terus meningkat seiring memanasnya konflik antara Iran dan Israel. Situasi ini turut memicu lonjakan harga energi global dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Rabu, (1/3/2026). 

 

 

“Kalian harus mulai belajar berjuang sendiri. AS tidak akan selalu membantu kalian, sama seperti kalian tidak membantu kami. Iran pada dasarnya sudah dilumpuhkan. Bagian tersulit sudah selesai. Pergi dan cari minyak kalian sendiri,” tulis Trump. Demikian dikutip Jawapos.com, rabu, (3/1/2026). 

 

 

Di tengah kondisi tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan keras yang menyasar negara-negara sekutu Washington. Ia menyindir sekutu-sekutunya karena dinilai tidak memberikan dukungan yang cukup dalam upaya membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz yang saat ini berada dalam pengaruh Iran.

 

 

Melalui unggahannya di media sosial Truth Social, Trump secara terbuka menyampaikan kekecewaannya. Ia bahkan meminta negara-negara sekutu untuk tidak lagi bergantung pada Amerika Serikat dalam menghadapi krisis energi global.

 

 

Pernyataan tersebut memicu beragam reaksi, terutama karena disampaikan di tengah meningkatnya tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel dalam konflik melawan Iran. Meski demikian, Trump tetap mengklaim bahwa kekuatan Iran telah melemah secara signifikan.

 

 

Di sisi lain, dampak konflik mulai terasa pada sektor energi. Harga bahan bakar di Amerika Serikat mengalami lonjakan signifikan. Data dari AAA menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin nasional telah menembus USD 4,02 per galon, meningkat lebih dari USD 1 sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.

 

 

Kenaikan ini menjadi salah satu yang tertinggi sejak 2022, mengingatkan kembali pada krisis energi global saat pecahnya konflik Rusia dan Ukraina beberapa tahun lalu. Kondisi tersebut menegaskan bahwa pasar energi global sangat rentan terhadap eskalasi konflik geopolitik.

 

 

Sementara itu, situasi di lapangan semakin memanas. Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah sebagai respons atas serangan terbaru Israel ke Teheran. Sirene peringatan terdengar di Yerusalem, sementara militer Israel mengklaim telah melakukan serangan balasan.

 

 

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa lebih dari setengah target militer negaranya telah tercapai. Namun, ia menegaskan bahwa operasi militer masih akan terus berlangsung.

 

 

“Ini sudah melewati titik tengah, tapi saya tidak ingin menetapkan jadwal,” ujarnya.

 

 

Eskalasi konflik ini diperkirakan akan terus berdampak pada stabilitas kawasan dan ekonomi global, terutama dalam sektor energi yang kini berada dalam tekanan besar akibat ketidakpastian geopolitik. (frcn)