SURABAYA, PustakaJC.co – Kerupuk yang selama ini menjadi pelengkap favorit berbagai hidangan ternyata menyimpan risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan. Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar lebih bijak mengonsumsi camilan tersebut karena dapat meningkatkan risiko obesitas hingga penyakit jantung.
Budi menyoroti tingginya kandungan kalori dalam kerupuk yang kerap tidak disadari masyarakat. Menurutnya, satu buah kerupuk mengandung sekitar 65 kalori. Artinya, jika seseorang menghabiskan satu renteng atau sekitar 10 kerupuk, maka kalori yang masuk mencapai sekitar 650 kalori.
"Sepuluh kerupuk itu hampir setara dengan proporsi satu piring nasi lengkap dengan lauk pauk yang jauh lebih bernutrisi dan memberikan rasa kenyang lebih lama," ujar Budi.
Kerupuk memang terasa ringan karena teksturnya renyah dan didominasi udara. Namun, makanan ini umumnya dibuat dari tepung tapioka atau tepung lain yang tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat sehingga cepat dicerna tubuh tanpa memberikan rasa kenyang yang bertahan lama.
Akibatnya, seseorang cenderung mengonsumsi kerupuk dalam jumlah banyak tanpa disadari. Kebiasaan tersebut juga sering diikuti dengan porsi makanan utama yang tetap, sehingga total asupan kalori harian meningkat.
Selain tinggi karbohidrat, sebagian besar kerupuk diolah dengan cara digoreng dan mengandung kadar garam yang cukup tinggi. Kombinasi kalori, lemak, dan natrium berlebih dapat memicu penumpukan lemak tubuh, meningkatkan berat badan, hingga menyebabkan perut tampak membuncit.
Kandungan garam yang tinggi juga membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga menimbulkan rasa begah. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa diimbangi pola hidup sehat dan aktivitas fisik yang cukup, risiko obesitas, hipertensi, serta diabetes akan meningkat.
Kerupuk juga kerap menjadi pelengkap hampir di setiap waktu makan, mulai dari nasi goreng, bakso, soto hingga berbagai menu lainnya. Kebiasaan ini membuat tambahan kalori sering kali luput dari perhatian karena kerupuk tidak dianggap sebagai makanan utama.
Menkes juga mengingatkan bahwa mayoritas kerupuk digoreng menggunakan minyak yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) apabila dikonsumsi secara berlebihan. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah.
Karena itu, masyarakat diimbau mulai membatasi konsumsi kerupuk dan menggantinya dengan camilan yang lebih sehat, seperti buah-buahan, kacang tanpa garam, atau makanan tinggi serat. Mengatur pola makan seimbang, rutin berolahraga, serta mengendalikan asupan kalori tetap menjadi langkah utama untuk menjaga berat badan ideal dan kesehatan jantung.
(int)