Pakar Ingatkan Risiko Gaya Hidup YOLO, Generasi Muda Diimbau Terapkan 'Healthy YOLO'

gaya hidup | 04 Oktober 2026 12:56

Pakar Ingatkan Risiko Gaya Hidup YOLO, Generasi Muda Diimbau Terapkan 'Healthy YOLO'
ILUSTRASI Tren gaya hidup You Only Live Once

SURABAYA, PustakaJC.co, Minggu, (4/10/2026). Tren gaya hidup You Only Live Once (YOLO) yang kian populer di kalangan generasi muda dinilai perlu disikapi secara bijak. Memanjakan diri dari hasil kerja keras dinilai sah-sah saja, namun tanpa perencanaan matang, pola konsumsi berlebih berpotensi mengancam stabilitas finansial di masa depan.

 

Perencana Keuangan, Melvin Mumpuni, menjelaskan bahwa tingginya dorongan menikmati hidup saat ini kerap dipicu oleh fenomena psikologis yang disebut present bias. Kondisi ini membuat seseorang cenderung memberi nilai lebih tinggi pada kepuasan instan dibandingkan manfaat jangka panjang yang baru dirasakan beberapa tahun mendatang.

 

"Ngopi Rp50.000, makan enak, konser, traveling, atau nongkrong memberikan kepuasan yang langsung dirasakan. Sebaliknya, menabung untuk uang muka rumah atau investasi tidak memberikan hasil instan," ujar Melvin.

 

 

Selain faktor psikologis, melambungnya harga hunian hingga miliaran rupiah turut memengaruhi pola pikir anak muda. Ketika target membeli rumah terasa semakin mustahil dijangkau, sebagian orang memilih pasrah dan mengalokasikan uangnya untuk pengalaman jangka pendek. Menurut Melvin, pola pikir tersebut berisiko menjadi self-fulfilling prophecy yang menyulitkan kondisi keuangan di kemudian hari.

 

Meski demikian, Melvin menegaskan bahwa prinsip YOLO tidak selalu berdampak negatif selama dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia mengintroduksi konsep Healthy YOLO, yaitu pendekatan di mana seseorang tetap bisa menikmati hidup setelah pos kebutuhan masa depan terpenuhi.

 

"Saya lebih setuju dengan Healthy YOLO. Saya menikmati hidup sekarang karena saya sudah menyiapkan kebutuhan masa depan," tegasnya.

 

Untuk menerapkan pola tersebut, Melvin menyarankan metode alokasi prioritas di awal (pay yourself first). Begitu menerima penghasilan, dana untuk investasi, tabungan, dana darurat, maupun kewajiban sosial harus disisihkan terlebih dahulu sebelum sisanya digunakan untuk kebutuhan gaya hidup.

 

Di tengah tantangan ekonomi dan kenaikan biaya hidup, menjaga keseimbangan antara kepuasan masa kini dan kepastian masa depan menjadi kunci utama bagi generasi muda perkotaan. (ivan)