JAKARTA, PustakaJC.co - Presiden Prabowo Subianto mengklaim Indonesia tengah menuju swasembada pangan kondisi ketika kebutuhan pangan pokok bisa dipenuhi sepenuhnya dari dalam negeri hanya dalam waktu enam bulan sejak ia dilantik. Klaim ini kontras dengan fakta bahwa di era Jokowi, impor beras justru mencetak rekor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
“Dalam waktu singkat kita buktikan, kita sudah ke arah swasembada pangan di luar dugaan. Produksi beras dan jagung tertinggi sepanjang sejarah Indonesia,” ujar Presiden Prabowo Subianto saat memberi arahan dalam Kongres IV PP Tidar, dikutip dari surabayapagi.com, Selasa, (20/5/2025).
Prabowo menjelaskan, lonjakan produksi itu terjadi karena pemerintah menjalankan program perluasan sawah dari tanah-tanah tak produktif seperti rawa dan lahan tandus.
“Tanah rawa kita ubah jadi sawah, tanah tandus akan jadi tanah yang subur,” ungkap Presiden RI itu.
Menurut Prabowo, program tersebut berhasil meningkatkan rata-rata produksi beras nasional sebesar 10%, bahkan di beberapa daerah seperti Sumatera Selatan mencapai kenaikan hingga 25%.
Klaim Prabowo didukung oleh data dari Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan, stok beras nasional saat ini mencapai 3,7 juta ton, dan diperkirakan akan tembus 4 juta ton dalam waktu dekat.
“Stok kita hari ini, alhamdulillah, 3,7 juta ton. Itu sejarah baru. Mudah-mudahan dalam 15 sampai 20 hari sudah 4 juta ton,” kata Amran saat ditemui di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu, (14/5/2025).
Ia menegaskan angka ini adalah rekor tertinggi sejak Bulog berdiri pada 1969. Sebagai pembanding, pada 1985 ketika Indonesia dinyatakan swasembada, stok beras nasional hanya mencapai 3,006 juta ton, dengan jumlah penduduk 166,6 juta jiwa. Kini, dengan populasi 283 juta jiwa, stok beras justru melampaui capaian tersebut.
Lembaga US Department of Agriculture memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai 34,6 juta ton pada periode 2024/2025. Ini menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di ASEAN, melampaui Thailand dan Vietnam.
Namun, di sisi lain, Indonesia sempat mengalami lonjakan impor beras pada masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo. Menurut data BPS, impor beras tahun 2024 mencapai 4,52 juta ton, naik signifikan dari tahun 2023 yang sebesar 3,06 juta ton.
“Jumlah ini tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Pada 2018 saja hanya 2,25 juta ton, bahkan di 2019 hanya 444 ribu ton,” ujar seorang pejabat Kementerian Perdagangan, Senin (19/5/2025). Ia menyebut Thailand sebagai pemasok utama.
Impor tersebut sempat terjadi karena tekanan El Nino yang mengakibatkan turunnya produksi padi hingga 760 ribu ton.
Dalam enam bulan, Prabowo mengklaim mampu mengubah wajah pertanian nasional. Namun, di balik klaim swasembada dan tumpukan stok beras, publik masih menanti bukti kesinambungan dan ketahanan kebijakan pangan jangka panjang. (ivan)