Tingginya Perkawinan Anak dan Kemiskinan Ekstrem Jadi Perhatian Utama DPRD Jatim

pemerintahan | 31 Mei 2025 14:30

Tingginya Perkawinan Anak dan Kemiskinan Ekstrem Jadi Perhatian Utama DPRD Jatim
Indriani Yulia Mariska, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur. (dok bidik.news)

SURABAYA, PustakaJC.co - Dua masalah besar masih membayangi pembangunan Jawa Timur: angka perkawinan anak yang tinggi dan kemiskinan ekstrem yang belum sepenuhnya teratasi. Fraksi PDIP DPRD Jatim mendesak pemerintah provinsi untuk mengambil langkah cepat dan sinergis demi masa depan generasi muda dan kemajuan sosial.

Indriani Yulia Mariska, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, mengungkapkan keprihatinannya atas tingginya angka perkawinan anak di Jawa Timur. Berdasarkan data Pengadilan Tinggi Agama, dispensasi kawin turun dari 15.095 pada 2022 menjadi 8.753 pada 2024. Dilansir dari beritajatim.com, Sabtu, (31/5/2025).

 

“Meski tren menurun, angka ini masih sangat tinggi dan mencerminkan masalah struktural yang serius. Data hanya menggambarkan kasus resmi, sementara perkawinan anak tanpa dispensasi justru lebih banyak terjadi,” ujarnya, Jumat, (30/5/2025).

Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor—pendidikan, kesehatan, dan tokoh masyarakat untuk mencegah praktik perkawinan anak yang merugikan masa depan generasi.

“Kasus ini harus menjadi fokus pembangunan dan sinergi antarlembaga harus diperkuat,” tambah Indriani.

Selain itu, persoalan kemiskinan ekstrem juga masih menjadi tantangan berat. Data resmi per September 2024 menunjukkan angka kemiskinan di Jawa Timur 9,56 persen, turun tipis 0,23 persen dari Maret 2024.

“Penurunan ini belum maksimal dan perlu percepatan. Khususnya di daerah dengan kategori kemiskinan ekstrem, upaya ekstra harus dilakukan dengan mensinergikan anggaran dan program lintas OPD,” tutur anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur.

Fraksi PDIP DPRD Jatim meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar memperkuat strategi intervensi terpadu sebagai langkah penting dalam mengatasi kedua persoalan ini.

Perkawinan anak dan kemiskinan ekstrem bukan sekadar angka statistik, melainkan tantangan nyata yang harus diatasi untuk memastikan masa depan lebih baik bagi masyarakat Jawa Timur. Sinergi dan komitmen kuat dari semua pihak menjadi kunci keberhasilan pembangunan sosial di provinsi ini. (ivan)