Masjid Harus Kembali Sakral Menag Nasaruddin Ajak Umat Bangun Ruang Tembus Langit

pemerintahan | 09 Juli 2025 05:31

Masjid Harus Kembali Sakral Menag Nasaruddin Ajak Umat Bangun Ruang Tembus Langit
Menteri Agama Nasaruddin Umar. (dok kemenag)

JAKARTA, PustakaJC.co — Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerukan pentingnya menghidupkan kembali kesakralan masjid yang belakangan ini dinilainya mulai luntur. Dalam Sarasehan Kemasjidan dan Lokakarya Nasional Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) 2025 yang digelar di Jakarta pada Selasa, (8/7/2025), Menag menegaskan bahwa masjid bukan hanya bangunan tempat beribadah, tetapi simbol ruang ilahiah yang sakral dan mulia.

 

“Attachment kita dengan Tuhan, kemelekatan diri kita dengan Tuhan itu gak ada lagi. Saya kira inilah salah satu tantangan Kementerian Agama dan kita semuanya di masa depan,” ujar Nasaruddin di hadapan peserta sarasehan. Dilansir dari kemenag.go.id, Rabu, (8/7/2025).

 

 

 

Ia menjelaskan bahwa tanda kesakralan masjid tercermin dari cara umat memperlakukan ruang ibadah tersebut. Penggunaan pakaian bersih dan sopan, tidak membawa najis, serta menjauhkan kegiatan transaksi dari ruang utama masjid adalah bentuk nyata penghormatan terhadap tempat suci.

 

“Di masjid itu kita harus pakai pakaian bersih, tidak bernajis. Harus sopan, menutup aurat. Itu artinya pensakralan terhadap masjid,” tegasnya.

 

 

 

Lebih lanjut, Nasaruddin mengajak umat Islam untuk membangun ruang ibadah pribadi di rumah, sekecil apapun ukurannya. Baginya, sebuah sudut kecil pun bisa menjadi ruang spiritual yang ia sebut sebagai ruang tembus langit—ruang perjumpaan manusia dengan Tuhan.

“Kalau kita tidak punya musalah di rumah, di kamar, di samping lemari itu kita geser sedikit lemarinya. Bikin satu selebar saja dari situ. Itu ruang tembus langit,” tuturnya penuh semangat.

 

 

 

Menag juga menyinggung kondisi kehidupan masyarakat kota besar yang menurutnya semakin kehilangan orientasi spiritual karena minimnya ruang-ruang sakral. Ia menilai, kota seperti Jakarta sudah tampak tidak religius dan menjauh dari nilai-nilai Pancasila.

 

“Kalau orang sudah tidak punya lagi tempat-tempat yang sakral, tidak ada sekret-nya lagi dalam kehidupannya, maka hidupnya itu akan tawar. Maka itu kota Jakarta itu sangat tidak religius, sangat tidak Pancasilais,” ucap imam besar Masjid Istiqlal itu.

 

 

 

Dalam semangat membangun kembali spiritualitas publik, Nasaruddin mengajak semua pihak, lintas iman dan generasi, untuk menjaga dan merawat tempat ibadah sebagai ruang suci bersama. Ia menyebut kesadaran kolektif ini penting agar masyarakat tidak kehilangan arah dalam kehidupan yang makin serba cepat dan materialistik. (ivan)