SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah Kota Surabaya memutuskan menunda penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pembiayaan alternatif atau utang daerah tahun 2025. Langkah ini diambil untuk menekan beban bunga pinjaman yang otomatis berjalan setelah MoU ditandatangani.
Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, menjelaskan bahwa penundaan dilakukan secara sengaja agar beban bunga tidak muncul lebih cepat.
“Begitu MoU ditandatangani dan dana dipakai, bunga langsung jalan. Maka dari itu, waktu penandatanganan kami geser ke akhir tahun,” ujar Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, dikutip dari jawapos.com, Sabtu, (29/11/2025).
Meski MoU belum diteken, seluruh proyek yang dibiayai lewat skema alternatif tetap berjalan. Pemkot menerapkan pola reimburs, yakni pekerjaan dikerjakan lebih dulu dan pembayaran diganti kemudian.
“Proyek tidak berhenti. Semua tetap berjalan normal,” tegas Lilik.
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Bahtiar Rifai, mendukung strategi tersebut. Menurutnya, penundaan penandatanganan MoU hingga Desember dapat menghemat bunga dua bulan penuh.
“Kalau ditunda ke Desember, kita lewat Oktober dan November tanpa kena bunga. Itu penghematan signifikan,” katanya.
Bahtiar menambahkan, secara politik DPRD sudah memberikan persetujuan penuh terhadap skema pembiayaan alternatif itu. Proyek prioritas seperti penanganan banjir, pelebaran jalan, hingga pembangunan infrastruktur tetap dilelang terlebih dahulu, sementara pinjaman berfungsi sebagai penutup biaya.
Selain pinjaman 2025, Pemkot juga menyiapkan pembiayaan alternatif 2026 sebesar Rp1,5 triliun melalui Bank Jatim dan PT SMI. Administrasi sudah lengkap, perda telah disahkan, dan kini menunggu evaluasi gubernur sebelum diajukan ke kementerian terkait.
Total pinjaman 2025 berdasarkan dokumen perencanaan Pemkot mencapai Rp452 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk proyek strategis, antara lain:
• Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) trase Raya Sememi–Simpang Romokalisari — Rp42 miliar
• Pembebasan lahan & pelebaran Jalan Wiyung — Rp130,04 miliar
• Diversi saluran Gunungsari (Taman Cahaya – Jembatan Raci) — Rp50,18 miliar
• Pemasangan PJU — Rp50,29 miliar
• Penanganan genangan — Rp179,47 miliar
• Proyek lanjutan: Jalan Dharmahusada–MERR & Flyover Dolog
Menurut Bahtiar, percepatan pengerjaan sejak awal tahun akan menghasilkan efisiensi besar.
“Selisihnya bisa puluhan miliar kalau dikerjakan lebih awal,” ujarnya. (ivan)