Khofifah Dorong Pemanfaatan AI Beretika agar Radio Tetap Jadi Media Tepercaya

pemerintahan | 14 Februari 2026 07:19

Khofifah Dorong Pemanfaatan AI Beretika agar Radio Tetap Jadi Media Tepercaya
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam siaran radio harus tetap menjunjung tinggi etika dan integritas agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Penegasan tersebut disampaikan Khofifah dalam peringatan Hari Radio Sedunia 2026 yang digelar di Surabaya, Jumat, (13/2/2026). Ia menilai radio masih memiliki peran strategis sebagai ruang dialog publik yang menghadirkan edukasi, kedekatan sosial, serta memperkuat kohesi masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital.

“Radio bukan sekadar medium penyiaran, tetapi ruang komunikasi publik yang membangun kepercayaan. Di era digital, radio tetap relevan karena mampu menghadirkan informasi yang akurat, terutama dalam kondisi darurat dan bagi masyarakat di wilayah terpencil,” ujar Khofifah, Dikutip dari antaranews.com, Sabtu, (14/2/2026).

Menurutnya, kehadiran teknologi AI membuka peluang besar bagi dunia penyiaran radio, mulai dari pengolahan data pendengar, penguatan konten edukatif, personalisasi siaran, hingga percepatan distribusi informasi. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab etis.

“AI dapat meningkatkan kreativitas dan efisiensi penyiaran. Tetapi kepercayaan publik hanya bisa dibangun melalui integritas manusia di balik teknologi tersebut. Etika, akurasi, dan keberimbangan informasi tidak boleh ditinggalkan,” katanya.

Khofifah juga menekankan bahwa di tengah maraknya konten otomatis dan informasi berbasis mesin, radio memiliki keunggulan karena menghadirkan suara manusia, empati, serta kedekatan sosial yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi.

Ia menilai tantangan utama media saat ini bukan semata kecepatan menyampaikan informasi, melainkan menjaga kualitas, kredibilitas, dan kepercayaan publik agar radio tetap menjadi rujukan masyarakat dalam memperoleh informasi yang mencerahkan.

“Radio harus menjadi jangkar kepercayaan publik. Inovasi teknologi seharusnya memperkuat kualitas siaran, bukan menggantikan nilai kemanusiaan dalam komunikasi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengapresiasi peran radio lokal dan radio komunitas di Jawa Timur yang aktif menyebarluaskan informasi pembangunan, edukasi kebencanaan, literasi kesehatan, serta penguatan ekonomi masyarakat.

Ia berharap momentum Hari Radio Sedunia 2026 dapat menjadi refleksi bersama untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga penyiaran, komunitas, dan masyarakat dalam membangun ekosistem komunikasi publik yang sehat, adaptif, dan berintegritas.

“Semoga radio terus menjadi media yang memberdayakan, menginspirasi etika komunikasi, dan menjaga kepercayaan masyarakat dalam perjalanan pembangunan bangsa,” pungkasnya. (ivan)