Mengacu pada Prospek Musim Kemarau 2026 dari BMKG, Jawa Timur berpotensi mengalami kekeringan meteorologis kategori menengah hingga tinggi pada periode Juli hingga September. Penurunan curah hujan diperkirakan mencapai 20 hingga 40 persen di bawah normal, disertai peningkatan suhu udara.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa musim kemarau dapat menurunkan produktivitas pertanian hingga 10–20 persen. Karena itu, distribusi air melalui mobil tangki, pompanisasi sungai, hingga pembangunan infrastruktur air berkelanjutan terus diperkuat.
Pemprov Jatim juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Pertanian dan Kementerian PUPR, guna memastikan ketersediaan bantuan seperti benih tahan kekeringan dan alat mesin pertanian.