Habitat Satwa Tetap Aman Meski 90 Hektare Hutan Jatim Terbakar

pemerintahan | 30 Juli 2026 18:44

Habitat Satwa Tetap Aman Meski 90 Hektare Hutan Jatim Terbakar
Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Jumadi. (dok kompas)

SURABAYA, PustakaJC.co – Kebakaran hutan yang melanda sejumlah kawasan di Jawa Timur selama musim kemarau 2026 telah menghanguskan sekitar 90 hektare lahan. Meski demikian, Dinas Kehutanan (Dinkeh) Jawa Timur memastikan kondisi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap habitat satwa liar di kawasan konservasi.

 

Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Jumadi, mengatakan hingga akhir Juli 2026 tercatat sedikitnya lima titik kebakaran hutan berdasarkan data Sistem Informasi Peringatan/Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi). Luasan area yang terdampak mencapai sekitar 90 hektare. Dilansir dari kompas.com, Kamis, (30/7/2026).

 

Beberapa lokasi kebakaran berada di kawasan Gunung Arjuno yang masuk Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, lereng Gunung Bromo wilayah Probolinggo, Gunung Lawu, Gunung Penanggungan, Gunung Argopuro, hingga Gunung Ijen.

 

Menurut Jumadi, luas kebakaran tahun ini masih lebih rendah dibandingkan pada 2023 yang mencapai sekitar 500 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan upaya pengendalian kebakaran terus mengalami perbaikan meski ancaman musim kemarau tetap harus diwaspadai.

 

“Kita cek sehari sudah enggak ada, mungkin sisa-sisanya sudah habis,” ujar Jumadi, Kamis, (30/7/2026).

 

 

 

Ia menjelaskan, kebakaran dipicu kombinasi cuaca panas, semak belukar yang mengering, serta embusan angin kencang sehingga api mudah menjalar. Selain faktor alam, aktivitas manusia juga diduga menjadi salah satu penyebab munculnya titik api.

 

Petugas bahkan menemukan jaring burung di salah satu lokasi kebakaran yang telah dipadamkan. Temuan tersebut mengindikasikan adanya aktivitas pencari burung di kawasan hutan yang berpotensi memicu kebakaran.

 

Karena itu, Dinas Kehutanan mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat menimbulkan api di kawasan hutan, termasuk membakar sampah, menyalakan api unggun, maupun membuang puntung rokok sembarangan, terutama selama musim kemarau.

 

Untuk memperkuat upaya pencegahan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan melalui berbagai program pemberdayaan. Menurut Jumadi, masyarakat yang memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan hutan cenderung memiliki kepedulian lebih besar dalam menjaga kelestarian lingkungan.

 

Selain itu, Pemprov Jatim juga bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa ditempatkan di desa-desa penyangga kawasan konservasi guna memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga hutan dan mencegah kebakaran.

 

 

Jumadi menegaskan bahwa hingga saat ini habitat satwa liar di kawasan yang terdampak kebakaran masih dalam kondisi aman. Meski demikian, pemerintah tidak ingin lengah dan akan terus memperkuat langkah-langkah preventif agar kebakaran tidak meluas maupun mengancam ekosistem hutan.

 

“Habitat enggak terganggu. Enggak terganggu kalau hanya sekian, cuman kita tidak boleh berasumsi demikian. Tapi kita harus preventif terus untuk mengedukasi,” kata Jumadi.

 

Dinas Kehutanan Jawa Timur berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dapat memperkuat perlindungan kawasan hutan sehingga risiko kebakaran selama musim kemarau dapat ditekan semaksimal mungkin. (ivan)