Kadindik Jatim Beberkan Rahasia Dominasi LKS Dikmen Empat Tahun Berturut-turut

pemerintahan | 04 Agustus 2026 14:27

Kadindik Jatim Beberkan Rahasia Dominasi LKS Dikmen Empat Tahun Berturut-turut
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima trofi juara umum Lomba Kompetensi Siswa Pendidikan Menengah (LKS Dikmen) Tingkat Nasional 2026, didampingi anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Rasiyo dari Fraksi Partai Demokrat.

SURABAYA, PustakaJC.co – Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai membeberkan strategi yang mengantarkan kontingen Jawa Timur mempertahankan gelar juara umum Lomba Kompetensi Siswa Pendidikan Menengah (LKS Dikmen) Tingkat Nasional selama empat tahun berturut-turut sejak 2023. Keberhasilan tersebut disebut lahir dari pembinaan yang sistematis, evaluasi berkelanjutan, serta kolaborasi erat dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), Selasa, (4/8/2026).

 

Pada ajang LKS Dikmen Nasional 2026, kontingen Jawa Timur berhasil mengoleksi 30 medali yang terdiri atas 18 medali emas, tujuh medali perak, dan lima medali perunggu. Raihan tersebut kembali menempatkan Jawa Timur sebagai juara umum nasional sekaligus mempertegas konsistensi pembinaan pendidikan vokasi di provinsi tersebut.

 

Aries Agung Paewai menegaskan capaian itu bukan diperoleh secara instan ataupun karena faktor sebagai tuan rumah. Menurutnya, keberhasilan merupakan hasil dari proses panjang yang diawali dengan seleksi peserta secara berjenjang di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.

 

“Target kita jelas, yaitu memberikan hasil terbaik di tingkat nasional. Karena itu, seluruh persiapan harus dilakukan secara matang, terukur, dan terus dievaluasi,” ujar Aries.

 

 

 

Ia menjelaskan, setiap penyelenggaraan LKS selalu menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Jawa Timur. Evaluasi tidak hanya berfokus pada jumlah medali yang diraih, tetapi juga menelaah setiap bidang lomba untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, hingga perkembangan kompetitor dari provinsi lain.

 

“Kita tidak hanya melihat berapa medali yang diperoleh, tetapi mengevaluasi setiap bidang lomba. Kita pelajari bagian mana yang sudah kuat, apa yang masih menjadi kelemahan peserta, serta bagaimana perkembangan kompetitor dari provinsi lain,” katanya.

 

Setelah proses seleksi selesai, para peserta terbaik mengikuti pemusatan latihan atau training center selama satu hingga tiga bulan. Selama masa pelatihan, siswa dibimbing secara intensif di sekolah, lembaga pelatihan, hingga fasilitas milik dunia usaha dan dunia industri agar terbiasa dengan standar kerja profesional.

 

 

 

Menurut Aries, materi pelatihan tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknis, tetapi juga melatih ketelitian, kecepatan, kreativitas, serta kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai kebutuhan industri.

 

Untuk memastikan kesiapan peserta, Dinas Pendidikan Jawa Timur turut melibatkan praktisi industri, tenaga ahli, serta mantan peserta dan juara WorldSkills sebagai pendamping sekaligus penguji dalam berbagai simulasi kompetisi.

 

“Soal-soal yang kita siapkan harus mendekati standar nasional, termasuk adanya mystery box. Tenaga ahli dari industri dan mantan juara WorldSkills juga menerapkan standar yang tinggi. Dari proses itulah kita dapat menentukan peserta terbaik yang benar-benar siap mewakili Jawa Timur,” ujarnya.

 

 

Aries menambahkan, aspek mental bertanding menjadi perhatian yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Karena itu, peserta dibiasakan menghadapi simulasi lomba dengan tekanan waktu dan kondisi yang menyerupai kompetisi nasional agar mampu mengambil keputusan secara tepat ketika berada di arena pertandingan.

 

“Peserta harus memiliki keterampilan sekaligus mental juara. Kemampuan teknis yang tinggi harus diikuti ketenangan, keberanian mengambil keputusan, disiplin, dan kepercayaan diri ketika berada di arena lomba,” tutur Aries.

 

Ia berharap prestasi yang terus dipertahankan Jawa Timur dapat menjadi motivasi bagi sekolah menengah kejuruan (SMK), guru produktif, serta seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Dengan demikian, lulusan SMK Jawa Timur tidak hanya mampu berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga memiliki daya saing di dunia kerja dan kompetisi internasional. (ivan)