JAKARTA, PustakaJC.co – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) harus terus menjaga relevansinya dalam menghadapi tantangan zaman. Pesan tersebut disampaikannya saat peluncuran buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu, (5/8/2026).
Dalam sambutannya, KH Ma’ruf Amin mengingatkan agar NU, pesantren, dan berbagai institusi keagamaan tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi tetap mampu memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, gerakan keagamaan (harakah diniyah), kebangsaan (harakah wathaniyah), dan pemberdayaan ekonomi (harakah iqtishadiyah) harus terus diperkuat. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (6/8/2026).
“Jangan sampai kita hanya bangga pada masa lalu dan kehilangan relevansi di masa depan. Kita harus menjadi penjaga keberagamaan yang adil (himayatul ummah) sekaligus pelopor perbaikan peradaban,” ujar KH Ma’ruf Amin.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyebut buku yang terdiri atas lebih dari 600 halaman tersebut sebagai kontribusi besar bagi jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Menurutnya, pengalaman KH Ma’ruf Amin selama lebih dari lima dekade di lingkungan NU menjadi rujukan penting bagi generasi penerus organisasi.
“Insyaallah ini adalah sumbangan raksasa dari Kiai Ma’ruf. Saya kira buku ini sangat penting dipelajari oleh siapa saja yang ingin berkiprah di dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” kata Gus Yahya.
Penulis buku, Siti Haniatunnisa, menjelaskan bahwa karya tersebut disusun untuk mendokumentasikan perjalanan pemikiran KH Ma’ruf Amin mengenai NU. Ia berharap buku itu dapat menjadi panduan bagi NU dalam memasuki abad keduanya dengan tetap berpijak pada nilai-nilai para pendiri organisasi.
Sementara itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menilai konsep Fikrah Nahdliyah yang berlandaskan prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) menjadi fondasi penting dalam menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia.
Menurut Menag, KH Ma’ruf Amin merupakan sosok ulama sekaligus organisatoris yang mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam berbagai solusi kebangsaan dan pengembangan ekonomi syariah.
“Beliau tidak hanya mewariskan organisasi, tetapi mewariskan cara berpikir, manhaj para ulama, dan ruh khidmah bagi bangsa. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, buku ini mengingatkan kita untuk merenungkan ke mana arah perjalanan umat, memegang teguh sanad keilmuan, dan mengokohkan gerakan pemberdayaan berbasis pesantren,” ujarnya.
Peluncuran buku ini diharapkan menjadi referensi bagi warga Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas dalam memahami pemikiran KH Ma’ruf Amin sekaligus memperkuat arah gerakan NU agar tetap relevan dan berkontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Jangan sampai kita hanya bangga pada masa lalu dan kehilangan relevansi di masa depan. Kita harus menjadi penjaga keberagamaan yang adil sekaligus pelopor perbaikan peradaban,”ujar KH Ma’ruf Amin. (ivan)