Sementara itu, di tingkat masyarakat, nilai transaksi ekonomi Kelompok Tani Hutan (KTH) Jawa Timur sepanjang 2025 telah melampaui Rp1,6 triliun dan menjadi yang tertinggi secara nasional.
Jumadi menjelaskan, indikator kekuatan ekonomi kehutanan tidak hanya dilihat dari satu angka. Sejumlah indikator yang menjadi perhatian meliputi nilai PDRB, produksi dan peredaran hasil hutan legal, kapasitas industri pengolahan, ekspor, penyerapan tenaga kerja, hingga aktivitas ekonomi masyarakat sekitar hutan.
“Jawa Timur kuat bukan karena mengambil hasil hutan sebanyak-banyaknya, tetapi karena mampu menciptakan nilai tambah setinggi-tingginya dari sumber daya hutan yang dikelola secara legal dan berkelanjutan,” ujarnya.