Penyandang Disabilitas Dilatih Siap Kerja, Kadin Jatim Buka Akses Industri

pemerintahan | 11 Agustus 2026 18:47

 

Hal itu dirasakan Fadlakal Jamal Aswar (29), penyandang disabilitas tuna netra asal Surabaya yang tergabung dalam Komunitas Mata Hati.

 

Jamal mengatakan sebelumnya telah mengikuti sejumlah pelatihan. Namun, materi pelayanan prima memberikan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan maupun pekerjaan.

 

“Di pelayanan prima saya mendapatkan lumayan banyak pengetahuan tambahan, baik secara akademis maupun praktik,” kata Jamal.

 

Menurut dia, pelayanan yang baik sebenarnya berawal dari kemampuan seseorang dalam mengelola dirinya sendiri. Sikap positif tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain.

 

“Kalau kita ingin melayani dengan baik, maka kita harus baik dulu dengan diri kita. Kita harus bahagia, kita harus selesai dengan diri kita. Kalau kita bahagia, kita juga bisa membuat orang lain bahagia,” ujarnya.

 

Bagi penyandang tuna netra, kata Jamal, membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh menjadi tantangan tersendiri karena informasi visual tidak dapat diterima secara langsung.

 

Karena itu, materi pelayanan prima memberikan perspektif baru mengenai cara membangun komunikasi dengan pelanggan.

 

“Body language dan ekspresi itu kami tidak bisa mendapatkan input dari melihat. Itu menjadi pekerjaan rumah bagi kami. Kesulitan kami adalah bagaimana membaca ekspresi dan body language. Senyum adalah fondasi dari pelayanan prima,” tuturnya.