Tangulangi Kekeringan di Lamongan, Khofifah Dorong Pengeboran Sumur dan Eksplorasi Sumber Air

pemerintahan | 18 September 2026 18:53

Tangulangi Kekeringan di Lamongan, Khofifah Dorong Pengeboran Sumur dan Eksplorasi Sumber Air
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (tengah) bersama Bupati Lamongan Yuhronur Efendi (baju batik) saat menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Dusun Bulu, Desa Mantup, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. (dok antara)

LAMONGAN, PustakaJC.co - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong langkah strategis berbasis solusi jangka panjang untuk mengatasi bencana kekeringan yang rutin melanda Kabupaten Lamongan, mulai dari pemetaan sumber air baru hingga optimalisasi pengeboran sumur.

 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa penanganan kekeringan tidak bisa hanya bergantung pada bantuan jangka pendek atau intervensi cuaca semata. Dilansir dari antaranews.com, Jumat, (18/9/2026).

 

"Kami sudah melakukan berbagai upaya, termasuk operasi modifikasi cuaca sejak awal September. Namun, langkah yang lebih strategis adalah mengidentifikasi dan mengakses sumber-sumber air terdekat untuk ditarik ke wilayah yang terdampak kekeringan," ujar Khofifah usai menyalurkan bantuan air bersih di Dusun Bulu, Desa Mantup, Kecamatan Mantup, Lamongan, Jumat, (18/9/2026).

 

 

 

Dalam kunjungan lapangan tersebut, Pemprov Jatim menyalurkan bantuan darurat berupa 1.500 liter air bersih, sembako untuk 105 kepala keluarga (sekitar 590 jiwa), 70 jeriken berkapasitas 15 liter, serta 150 tandon air 1.200 liter. Total nilai bantuan pasokan air bersih yang dikucurkan mencapai Rp61 juta.

 

 

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengungkapkan, cakupan wilayah terdampak kekeringan di daerahnya cukup luas, meliput 42 dusun yang tersebar di 12 kecamatan. Pemkab Lamongan bersama Pemprov Jatim terus mendistribusikan pasokan air bersih secara berkala untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

 

"Distribusi air dilakukan hampir setiap hari, baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi," kata Yuhronur.

 

 

 

Beban Ekonomi Warga Meningkat

 

Krisis air bersih ini berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga warga setempat. Titik (30), warga Dusun Bulu, mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra akibat lonjakan harga air tangki swasta selama musim kemarau.

 

"Harga air tangki kapasitas 5.000 liter naik menjadi Rp140 ribu dari harga normal Rp120 ribu–Rp130 ribu. Untuk ukuran 8.000 liter, harganya naik dari Rp150 ribu menjadi Rp180 ribu," tuturnya.

 

Melalui dorongan eksplorasi sumber air dan pengeboran sumur ini, pemerintah daerah diharapkan dapat segera memangkas ketergantungan warga terhadap pembelian air tangki serta distribusi darurat tahunan. (ivan)