Antisipasi Sesar Aktif, BPBD Surabaya Bakal Pasang Lima Alat Deteksi Gempa pada 2026

pemerintahan | 19 September 2026 17:34

Antisipasi Sesar Aktif, BPBD Surabaya Bakal Pasang Lima Alat Deteksi Gempa pada 2026
Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto. (dok kompas)

SURABAYA, PustakaJC.co - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya berencana mengoperasikan empat hingga lima unit alat pendeteksi gempa bumi (seismograf) pada tahun 2026. Langkah ini diambil guna memantau pergerakan dua jalur patahan aktif yang melintasi wilayah Surabaya, yakni Patahan Surabaya dan Patahan Waru dari sistem Sesar Kendeng.

 

Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto, mengonfirmasi bahwa instrumen yang akan digunakan adalah Raspberry Shake (RS6D). Jenis alat ini direkomendasikan oleh tim geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di bawah pimpinan Prof. Amien Widodo. Dilansir dari kompas.com, Sabtu, (19/9/2026).

 

"Alat yang berukuran kecil ini memudahkan penempatan di area kota yang terbatas. RS6D menjadi solusi alternatif yang jauh lebih ekonomis dibandingkan instrumen seismik konvensional tanpa mengurangi kualitas data profesional," ujar Irvan.

 

 

Alat tersebut dibekali teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu merekam getaran dari skala kecil hingga kuat secara instan tanpa jeda. Untuk tahap awal, pemasangan diprioritaskan di ruang publik atau perkantoran yang memiliki koneksi internet stabil. Kedepannya, data dari unit seismograf ini akan diintegrasikan langsung dengan pusat kendali Command Center 112 sebagai bagian dari pembangunan sistem peringatan dini.

 

 

Meskipun secara ideal Surabaya membutuhkan sekitar 14 stasiun pemancar untuk mencakup seluruh wilayah, pengadaan 4–5 unit ini diposisikan sebagai langkah awal pemetaan mitigasi bencana.

 

Di sisi lain, Pakar Geologi ITS, Prof. Amien Widodo, menjelaskan bahwa Patahan Surabaya dan Patahan Waru memiliki karakteristik patahan naik (thrust fault). Aktivitas geologis ini ditandai dengan dorongan dari bawah permukaan bumi yang mengangkat lapisan tanah secara perlahan hingga membentuk bukit-bukit memanjang di wilayah perkotaan.

 

"Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time. Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan," terang Amien.

 

 

 

Menanggapi maraknya isu potensi gempa di media sosial, Pemkot Surabaya bekerja sama dengan BMKG (Stasiun Geofisika Probolinggo dan Pasuruan) serta ITS untuk menyajikan data dan informasi resmi yang valid.

 

Karakteristik sesar di Surabaya tergolong lempengan kecil, sehingga warga diimbau untuk tetap tenang, tidak terpengaruh isu liar, dan fokus meningkatkan kewaspadaan mandiri. (ivan)