Pengembangan perpustakaan oleh Disperpusip Jatim tidak berhenti pada penyediaan buku dan layanan digital. Perpustakaan juga diarahkan menjadi ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan positif.
Arif mengatakan sejumlah ruang di lingkungan perpustakaan terbuka untuk dimanfaatkan komunitas. Kegiatan yang digelar antara lain English Club, ruang dongeng, peluncuran buku dan berbagai kegiatan komunitas.
“Pengennya ini tidak hanya sebagai tempat membaca, tapi tempat orang bisa berkumpul, cari ide dan sebagainya. Atau sekadar janjian. Jadi tempat inilah pusat kegiatan masyarakat,” tuturnya.
Menurut Arif, perkembangan teknologi digital memang membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi. Namun, interaksi langsung antarmanusia tetap perlu dipertahankan.
Karena itu, Disperpusip Jatim berupaya menggabungkan kekuatan buku fisik, arsip, layanan digital dan ruang komunitas dalam satu ekosistem literasi.
Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan diharapkan semakin dekat dengan masyarakat dan generasi muda, bukan hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, mengenal sejarah, bertukar gagasan, berkreasi dan membangun interaksi sosial. (ivan)