Disperpusip Jatim Perluas Ekosistem Literasi Lewat Buku, Arsip dan Teknologi Digital

pemerintahan | 29 September 2026 16:32

Disperpusip Jatim Perluas Ekosistem Literasi Lewat Buku, Arsip dan Teknologi Digital
Sekretaris Disperpusip Jawa Timur, Muhamad Arif Widodo, di hari kunjung perpustakaan, Selasa, (29/9/2026).

SURABAYA, PustakaJC.co – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Jawa Timur terus memperluas ekosistem literasi masyarakat melalui penguatan layanan perpustakaan, pengenalan arsip kepada generasi muda, serta pemanfaatan teknologi digital.

 

Upaya tersebut dilakukan seiring dengan mulai pulihnya minat masyarakat untuk kembali berkunjung dan memanfaatkan layanan perpustakaan setelah sempat terdampak pandemi COVID-19.

 

Sekretaris Disperpusip Jawa Timur, Muhamad Arif Widodo, mengatakan pemulihan kunjungan masyarakat ke perpustakaan memang membutuhkan waktu. Saat pandemi, perpustakaan sempat ditutup akibat kebijakan pembatasan aktivitas dan physical distancing.

 

Namun, setelah layanan kembali berjalan, kunjungan masyarakat secara bertahap mulai meningkat.

 

“Setelah itu, untuk memulihkan kunjungan itu butuh waktu yang agak lama. Tapi ini sudah berangsur-angsur, kunjungan ke perpustakaan kita sudah naik,” ujar Arif kepada jurnalis PustakaJC.co, Selasa, (29/9/2026).

 

 

 

Ia menyampaikan, saat ini rata-rata kunjungan langsung atau on-site ke perpustakaan mencapai sekitar 161 orang per hari. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2025 yang rata-rata sekitar 120 orang per hari.

 

“Sekarang rata-rata kunjungannya 161 kalau masuknya per hari. Kalau 2025 itu 120 per hari yang datang ke sini,” jelasnya.

 

Selain kunjungan langsung, masyarakat juga memanfaatkan layanan secara daring. Menurut Arif, aktivitas digital yang dihitung sebagai kunjungan online antara lain akses terhadap koleksi digital, website, media sosial, serta berbagai konten yang disediakan Disperpusip Jatim.

 

Untuk layanan online secara keseluruhan, jumlah akses yang diterima berada di kisaran 200 ribu kunjungan per bulan.

 

“Kalau kunjungan ke Instagram, website dan sebagainya rata-rata 200 ribuan,” katanya.

 

 

 

 

Bus WARAS Disperpusib jatim.

 

Tidak hanya mendorong masyarakat membaca, Disperpusip Jatim juga memperluas literasi melalui pengenalan arsip kepada generasi muda. Salah satu program yang dikembangkan adalah Wisata Arsip Anak Sekolah (WARAS).

 

Arif menjelaskan, WARAS mulai diinisiasi sekitar 2020–2021. Program tersebut dirancang untuk mengenalkan arsip kepada anak-anak usia sekolah dengan pendekatan yang menyenangkan.

 

“Jadi kita ingin menanamkan atau minimal mengenalkan anak-anak kita yang usia sekolah dengan arsip. Apa sih arsip itu, pentingnya apa arsip itu, dengan cara-cara yang fun, yang menyenangkan,” jelasnya.

 

Melalui program tersebut, peserta diajak mengenal arsip sekaligus mengunjungi berbagai tempat bersejarah. Pendekatan tersebut diharapkan membuat generasi muda memahami bahwa arsip tidak hanya berupa dokumen yang tersimpan di ruang penyimpanan, tetapi memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah.

 

Antusiasme masyarakat terhadap program tersebut, lanjut dia, mulai terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan WARAS.

 

Bahkan, Disperpusip Jatim harus menyesuaikan jumlah peserta karena keterbatasan kapasitas pelaksanaan.

 

“Mungkin baru sebulan dua kali kita bisa. Padahal yang mau mengikuti WARAS makin banyak,” ungkapnya.

 

 

 

Untuk memperluas jangkauan edukasi arsip, Disperpusip Jatim juga menghadirkan konten sejarah melalui media sosial. Salah satunya melalui konten mengenai sejarah Jawa Timur dan arsip yang dikemas dengan pendekatan yang lebih ringan.

 

Menurut Arif, konten tersebut menjadi salah satu cara untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap arsip.

 

“Mulai ada masyarakat yang kenal. Oh, arsip itu menarik, sesuatu yang fun, bukan sesuatu yang serius,” ujarnya.

 

Di tengah perkembangan teknologi, Disperpusip Jatim juga terus mengembangkan digitalisasi perpustakaan dari sisi koleksi maupun layanan.

 

Arif menyebut Disperpusip Jatim memiliki perpustakaan digital DeJatim. Platform tersebut terus dievaluasi dan dioptimalkan agar semakin mudah dimanfaatkan masyarakat.

 

 

 

Selain itu, Disperpusip Jatim memiliki Khas Jatim, sebuah portal yang memuat digitalisasi naskah kuno serta berbagai informasi mengenai kekayaan lokal Jawa Timur.

 

Digitalisasi juga mencakup konten lokal dari berbagai daerah di Jawa Timur. Masyarakat dapat menemukan informasi mengenai makanan, tempat wisata, budaya hingga berbagai potensi daerah.

 

“Misalkan Kabupaten Ponorogo ada hal-hal yang menarik, entah itu makanan, tempat-tempat wisata atau budaya yang lain, itu ada konten-kontennya,” jelas Arif.

 

Menurutnya, masyarakat juga dapat berkontribusi dalam penyediaan konten lokal tersebut.

 

Di bidang kearsipan, digitalisasi dilakukan melalui sistem informasi kearsipan yang memungkinkan arsip bersejarah diakses secara lebih luas. Digitalisasi dilakukan dengan proses pemotretan atau pemindaian menggunakan perangkat dengan resolusi tinggi untuk menjaga kualitas dokumentasi.

 

Sementara dari sisi layanan perpustakaan, teknologi dimanfaatkan untuk memudahkan masyarakat melakukan berbagai kebutuhan tanpa harus selalu datang langsung.

 

Salah satunya layanan perpanjangan masa peminjaman buku. Jika sebelumnya pemustaka harus datang ke perpustakaan, kini proses tersebut dapat dilakukan secara daring dengan memanfaatkan perangkat digital yang tersedia.

 

“Kalau memperpanjang buku yang dulu harus ke sini, itu tidak. Teman-teman pakai tools sederhana yang ada,” ujarnya.

 

 

 

Untuk pencarian koleksi, masyarakat juga dapat memanfaatkan OPAC Jatim atau katalog perpustakaan secara daring.

 

Arif menyebut layanan informasi seperti konten bahasa, khas Jawa Timur, serta podcast dan talk showjuga menjadi bagian dari layanan digital yang cukup diminati masyarakat.

 

“Kalau layanan informasi seperti bahasa, khas Jatim, itu yang paling diminati. Kalau bahasa sekarang itu talk show, podcast seperti itu,” katanya.

 

 

 

Pengembangan perpustakaan oleh Disperpusip Jatim tidak berhenti pada penyediaan buku dan layanan digital. Perpustakaan juga diarahkan menjadi ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan positif.

 

Arif mengatakan sejumlah ruang di lingkungan perpustakaan terbuka untuk dimanfaatkan komunitas. Kegiatan yang digelar antara lain English Club, ruang dongeng, peluncuran buku dan berbagai kegiatan komunitas.

 

“Pengennya ini tidak hanya sebagai tempat membaca, tapi tempat orang bisa berkumpul, cari ide dan sebagainya. Atau sekadar janjian. Jadi tempat inilah pusat kegiatan masyarakat,” tuturnya.

 

Menurut Arif, perkembangan teknologi digital memang membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi. Namun, interaksi langsung antarmanusia tetap perlu dipertahankan.

 

Karena itu, Disperpusip Jatim berupaya menggabungkan kekuatan buku fisik, arsip, layanan digital dan ruang komunitas dalam satu ekosistem literasi.

 

Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan diharapkan semakin dekat dengan masyarakat dan generasi muda, bukan hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, mengenal sejarah, bertukar gagasan, berkreasi dan membangun interaksi sosial. (ivan)