Proyek Rumah Pompa Surabaya Ditargetkan Rampung Pertengahan November, Progres Capai 90 Persen

pemerintahan | 30 Oktober 2026 19:21

Proyek Rumah Pompa Surabaya Ditargetkan Rampung Pertengahan November, Progres Capai 90 Persen
Ilustrasi rumah pompa di Surabaya. (dok detik)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempercepat pembangunan rumah pompa dan infrastruktur pengendali banjir menjelang puncak musim hujan. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menargetkan seluruh pekerjaan tersebut rampung pada pertengahan November 2026.

 

Hingga akhir Oktober 2026, progres pembangunan infrastruktur penanganan banjir itu telah mencapai 90 persen. Saat ini, pekerjaan difokuskan pada penyelesaian sejumlah bagian, terutama penyambungan pipa menuju sungai agar rumah pompa dapat segera dioperasikan. Dilansir dari detik.com, Jumat, (30/10/2026).

 

Eri mengatakan, percepatan pembangunan dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan yang diprediksi terjadi pada Desember mendatang.

 

“Sekarang progresnya sudah 90 persen. Targetnya pertengahan November selesai, karena yang masih dikerjakan terutama penyambungan pipa menuju sungai. Yang terpenting, koneksinya diselesaikan terlebih dahulu supaya rumah pompa bisa segera dioperasikan,” kata Eri, Kamis, (29/10/2026).

 

 

 

Sejumlah kawasan yang menjadi prioritas penanganan genangan di antaranya Tanjungsari, Simokalangan, Simorejo, Margorejo, Nginden Jangkungan, hingga Rungkut.

 

Menurut Eri, penanganan banjir dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan genangan serta kemampuan anggaran daerah. Sebelumnya, Pemkot Surabaya telah menyelesaikan penanganan di sejumlah kawasan yang selama ini menjadi titik langganan banjir, seperti Benowo, Pakal, dan Dukuh Kupang.

 

Ia menyebut kawasan Dukuh Kupang sebelumnya mengalami genangan selama puluhan tahun. Namun, melalui pembangunan infrastruktur, persoalan tersebut kini telah tertangani.

 

“Dulu kami selesaikan dulu yang di Benowo, Pakal, dan Dukuh Kupang. Di Dukuh Kupang, menurut cerita warga, genangannya sudah terjadi hampir 60 tahun. Alhamdulillah, kawasan itu sudah tertangani. Sekarang kami melanjutkan penanganan di titik-titik lain, seperti Margorejo, depan Ubaya, AWS, Tanjungsari, dan Simokalangan,” ujarnya.

 

Eri menegaskan, upaya pengendalian banjir tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan rumah pompa. Pembenahan saluran air hingga ke lingkungan permukiman juga menjadi bagian penting agar aliran air dapat berjalan optimal.

 

“Selain rumah pompa, saluran air di perkampungan juga kami benahi. Karena penanganan genangan ini tidak cukup hanya mengandalkan rumah pompa, tetapi saluran airnya juga harus berfungsi dengan baik agar air bisa mengalir lancar,” jelasnya.

 

 

Selain proyek berskala besar, Pemkot Surabaya juga mendorong penyelesaian persoalan infrastruktur di lingkungan permukiman melalui skema swakelola dan gotong royong bersama masyarakat.

 

Eri mencontohkan penanganan jalan ambles setelah hujan yang dilakukan dengan melibatkan warga setempat. Menurutnya, respons cepat terhadap persoalan infrastruktur di tingkat lingkungan juga diperlukan untuk meminimalkan dampak yang dirasakan masyarakat.

 

Di sisi lain, Eri mengingatkan kontraktor agar menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan. Pemkot Surabaya menyiapkan sanksi tegas bagi pelaksana proyek yang tidak memenuhi kewajibannya, termasuk pemutusan kontrak hingga masuk daftar hitam atau blacklist.

 

“Kalau sudah diberikan peringatan dan jangka waktunya terlewati, konsekuensinya bisa sampai pemutusan kontrak dan blacklist. Kami berharap tidak sampai terjadi, karena yang paling penting pembangunan selesai tepat waktu dan manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

 

Pemkot Surabaya berharap penyelesaian pembangunan rumah pompa dan pembenahan saluran air tersebut dapat meningkatkan kapasitas pengendalian genangan, terutama saat intensitas hujan meningkat pada akhir tahun. (ivan)