Khofifah Pastikan Bantuan Jatim untuk Korban Gempa NTT Terus Bertambah

parlemen | 21 Agustus 2026 18:47

Khofifah Pastikan Bantuan Jatim untuk Korban Gempa NTT Terus Bertambah
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto dan Kadinsos Jatim Restu Novi Widiani saat melepas bantuan kemanusiaan untuk korban gempa NTT. (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama masyarakat terus memperkuat dukungan kemanusiaan bagi warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Kamis (20/8/2026) malam, sebanyak 64,4 ton bantuan telah dikirim dari Jawa Timur melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

 

Bantuan tersebut diberangkatkan menggunakan kapal Dharma Rucitra VII dengan tujuan Labuan Bajo. Berbagai kebutuhan yang dikirim meliputi obat-obatan, bahan permakanan, perlengkapan mandi dan kebutuhan hygiene bagi masyarakat terdampak bencana. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Jumat, (21/8/2026).

 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, bantuan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian dan semangat kegotongroyongan masyarakat Jawa Timur terhadap warga NTT yang sedang menghadapi bencana.

 

Khofifah memastikan dukungan kemanusiaan dari Jawa Timur masih akan terus dilakukan. Bantuan yang saat ini telah mencapai 64,4 ton ditargetkan dapat bertambah hingga lebih dari 100 ton, menyesuaikan kebutuhan masyarakat di lapangan.

 

“Insya Allah hari ini yang sudah terkumpul sekitar 64,4 ton. Target sampai 100 ton yang bisa kita support. Persaudaraan dan kegotongroyongan harus dibangun semaksimal mungkin,” ujar Khofifah.

 

 

Menurut Khofifah, respons Jawa Timur terhadap bencana gempa NTT telah dilakukan secara bertahap sejak 16 Agustus 2026. Pada tahap awal, BPBD Jawa Timur mengirimkan tujuh personel untuk mendukung proses evakuasi dan penanganan awal di wilayah terdampak.

 

Dukungan kemudian dilanjutkan pada 17 Agustus 2026 pagi. Setelah pelaksanaan apel renungan suci, Pemprov Jatim mengirimkan 8,4 ton bantuan menuju Ende yang menjadi salah satu wilayah terdampak cukup berat dan memiliki konektivitas dengan kawasan Labuan Bajo.

 

Pada hari yang sama, Jawa Timur juga mengirimkan tenaga medis dan paramedis beserta obat-obatan. Mereka kemudian bergabung dengan layanan kesehatan dan rumah sakit setempat untuk membantu penanganan masyarakat terdampak.

 

Selain bantuan kebutuhan dasar, pengiriman tahap terbaru juga memperkuat dukungan sektor kesehatan. Obat-obatan yang dikirim telah disesuaikan dengan kebutuhan medis berdasarkan hasil identifikasi tim dokter Jawa Timur yang sebelumnya telah berada di lokasi bencana.

 

“Dari mereka dilakukan identifikasi apa saja kebutuhan obat. Sekarang ini kita bawa obat-obat cukup banyak sesuai kebutuhan yang dimaksud,” kata Khofifah.

 

 

 

Tim dokter Jawa Timur juga akan mendapat tambahan personel yang dijadwalkan berangkat pada 22 Agustus 2026. Penambahan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pelayanan kesehatan di lokasi terdampak.

 

Khofifah menjelaskan, tim kesehatan Jawa Timur saat ini telah bergabung dengan rumah sakit darurat yang dikoordinasikan Kementerian Kesehatan. Langkah tersebut dilakukan agar dukungan tenaga kesehatan dan obat-obatan dapat diberikan secara tepat sasaran.

 

Pemprov Jatim juga menyiapkan dukungan dari 14 rumah sakit yang berada dalam koordinasinya. Rumah sakit tersebut dapat memberikan dukungan tenaga kesehatan, mulai dari dokter, tenaga medis, paramedis hingga kebutuhan obat-obatan.

 

“Mereka sudah support obat-obatan sesuai dengan yang diidentifikasi oleh dokter yang sudah lebih dulu sampai sana. Jadi kita akan melihat kebutuhannya, katakan kalau dokter spesialis apa, kalau perawat berapa orang,” jelas Khofifah.

 

 

 

Khofifah menegaskan, prinsip utama dalam penyaluran bantuan kebencanaan adalah memastikan setiap bantuan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak. Pemprov Jatim tidak ingin bantuan yang dikirim justru tidak sesuai dengan kapasitas daerah penerima maupun kebutuhan riil di lapangan.

 

Menurutnya, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam mendukung penanganan bencana di NTT karena didukung konektivitas transportasi laut. Jalur pelayaran dari Surabaya menuju wilayah NTT memungkinkan bantuan dikirim secara relatif langsung sehingga dapat mempercepat proses distribusi.

 

“Ini adalah duka bersama. Seluruh daerah di Indonesia memiliki semangat kegotongroyongan yang tinggi. Mungkin ada yang bisa bergerak lebih cepat dan ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Jawa Timur memiliki konektivitas yang memungkinkan bantuan dikirim lebih cepat,” tuturnya.

 

Selain bantuan logistik dan kesehatan, Pemprov Jatim juga terus memetakan kebutuhan lain selama masa tanggap darurat. Kebutuhan tersebut mencakup kemungkinan penambahan posko, dapur umum hingga relawan.

 

Khofifah mengatakan, Dinas Sosial dan BPBD Jatim telah membahas kemungkinan penambahan dapur umum lapangan apabila kapasitas yang tersedia di wilayah terdampak belum mencukupi.

 

“Kita hitung apakah masih dibutuhkan dapur umum lapangan. Jika jumlah lapangan dirasakan masih harus ditambah maka Dinas Sosial dan BPBD akan menyiapkan,” katanya.

 

 

Untuk dukungan relawan, Pemprov Jatim juga akan mempertimbangkan kebutuhan secara cermat. Khofifah menegaskan, keberadaan relawan harus memberikan manfaat dan tidak menjadi beban tambahan bagi daerah yang tengah melakukan penanganan bencana.

 

“Selain itu, perlu identifikasi apakah masih dibutuhkan tambahan relawan karena jangan sampai tambahan relawan menjadi beban,” imbuhnya.

 

Hal serupa diterapkan dalam rencana pendirian posko. Pemprov Jatim terlebih dahulu akan melihat kondisi dan keberadaan posko yang sudah berjalan di daerah terdampak.

 

Jika sistem yang telah tersedia masih dapat diperkuat, personel dan sumber daya dari Jawa Timur akan diarahkan untuk bergabung dan memperkuat sistem tersebut.

 

“Kita tidak boleh menambah beban daerah yang pada dasarnya sudah memiliki tim yang sudah eksis sehingga kita sebetulnya bisa memberikan penguatan. Tetapi opsi untuk kemungkinan kita menyiapkan posko itu sudah kita bahas,” tegas Khofifah.

 

 

Tidak hanya kebutuhan fisik, Pemprov Jatim juga memberi perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat terdampak gempa. Dinas Sosial Jatim disiapkan untuk memberikan dukungan trauma healing dan trauma konseling bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis akibat bencana.

 

Khofifah mengatakan, pemulihan trauma pascabencana membutuhkan tenaga yang memiliki keterampilan khusus agar proses pendampingan dapat dilakukan secara tepat.

 

“Dinas Sosial kita siapkan untuk trauma healing yang mestinya memang mendapatkan penguatan ketika terjadi bencana alam, longsor, banjir atau gempa,” jelasnya.

 

Menurut Khofifah, proses pemulihan masyarakat pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, tempat tinggal, kesehatan dan logistik. Pemulihan mental serta rasa aman masyarakat juga menjadi bagian penting agar warga dapat kembali menjalani kehidupan bersama keluarga dan lingkungan.

 

Khofifah menegaskan, seluruh dukungan yang diberikan Jawa Timur merupakan wujud solidaritas antarsesama anak bangsa. Ia berharap bantuan yang telah dikirim dapat segera diterima dan dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan.

 

“Semoga yang tertimpa musibah, yang meninggal semua dapat tempat yang mulia di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian yang sedang dirawat di rumah sakit segera sembuh dan yang lain mudah-mudahan tetap semangat melanjutkan kehidupan mereka bersama keluarga,” pungkasnya. (ivan)