Teliti Penyakit Langka Mematikan 12 Tahun, Dokter Unair Raih Gelar PhD di Belanda

pendidikan | 21 Februari 2026 18:57

Teliti Penyakit Langka Mematikan 12 Tahun, Dokter Unair Raih Gelar PhD di Belanda
Dr Yufi Aulia Azmi resmi meraih PhD di University of Groningen lewat riset 12 tahun tentang Fournier’s Gangrene. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Dedikasi panjang selama 12 tahun meneliti penyakit langka namun mematikan mengantarkan dr Yufi Aulia Azmi, meraih gelar doktor (PhD) dari University of Groningen, Belanda. Dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu meneliti 185 kasus Fournier’s Gangrene, infeksi bakteri ganas yang menyerang area genital dan dapat berujung fatal.

 

Gelar PhD tersebut diraih setelah dr Yufi mempertahankan disertasi tentang penanganan komprehensif Fournier’s Gangrene di hadapan tim penguji di University Medical Center Groningen. Ia berhasil menuntaskan program doktoralnya dalam waktu 3 tahun 10 bulan, tergolong cepat untuk jenjang S3 di luar negeri. Dilansir dari jawapos.com, Sabtu, (21/2/2026).

 

Dalam risetnya, dr Yufi menganalisis 185 pasien yang ditangani dalam kurun waktu 2012 hingga 2024. Penelitian itu mencakup perjalanan penyakit secara menyeluruh, mulai dari kondisi awal pasien, proses diagnosis, tindakan medis, operasi, perawatan lanjutan, hingga dampak pembiayaan.

 

“Penelitian ini melihat kasus secara komprehensif, mulai dari pasien datang dengan kondisi awal, bagaimana penanganannya, sampai outcome dan pembiayaannya,” ujar dr Yufi.

 

 

 

Fournier’s Gangrene merupakan infeksi jaringan lunak yang berkembang cepat dan dapat menyebabkan kematian jaringan. Gejalanya antara lain pembengkakan pada area genital, perubahan warna kulit menjadi kehitaman, demam, serta bau tidak sedap akibat jaringan yang mengalami kerusakan.

 

Ia mengungkapkan, banyak pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah. Salah satu penyebab utamanya adalah keterlambatan diagnosis di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Kesalahan identifikasi membuat infeksi berkembang lebih luas dan memperparah kondisi pasien.

 

Selain itu, penelitian tersebut menemukan mayoritas pasien memiliki riwayat diabetes yang tidak terkontrol. Kadar gula darah tinggi menyebabkan daya tahan tubuh menurun, sehingga infeksi bakteri lebih mudah berkembang dan mempercepat kerusakan jaringan.

 

“Jika diabetes tidak terkontrol, risiko komplikasi infeksi meningkat. Karena itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk cepat mengenali tanda awal penyakit ini,” jelasnya.

 

 

 

Menurutnya, diagnosis dini dan penanganan agresif menjadi kunci utama menyelamatkan pasien. Tindakan operasi debridement atau pengangkatan jaringan mati harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan penyebaran infeksi.

 

Pihak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga turut mengapresiasi capaian tersebut. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi publikasi ilmiah, tetapi juga berkontribusi memperkuat sistem deteksi dini dan penanganan Fournier’s Gangrene, khususnya di layanan kesehatan tingkat pertama.

 

Riset ini sekaligus menjadi kontribusi penting bagi dunia medis, terutama dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit langka yang kerap terlambat dikenali namun memiliki risiko kematian tinggi. (ivan)