Disebutkan para bumiputra diharuskan bekerja seharian penuh tanpa diberi makan ataupun minum, apalagi upah. Praktik ini telah berjalan bertahun-tahun lamanya. Bahkan hal ini dilakukan pada hari Jumat siang, saat umat Islam harus menunaikan ibadah.
“Hal ini disebut oleh Agus Salim sebagai sebuah penghinaan terhadap agama Islam,” tandasnya.
Karena itulah sepulang dari Jenewa, Salim mengadakan aksi menuntut dihapuskannya sistem kerja paksa ini. Pada 14 Mei 1930, rakyat dari berbagai pelosok desa maupun kota turun aksi.
Dicatat oleh Mochtar, ketika itu pimpinan PSII terjun langsung, Salim memimpin di Sumatra, Sangadji di Sulawesi, sedangkan Tjokroaminoto, Kartosoewirjo, dan Suryopranoto memimpin aksi di Jawa. (int)