Dirinya kemudian melaporkan keadaan buruh-buruh di sana yang tenaganya diperas dan dieksploitasi dengan bayaran yang sangat minim. Laporan dan pemberitaan Salim ini tersiar luas bahkan hingga keluar Hindia Belanda.
Karena hal ini, Himpunan Serikat Buruh Belanda bahkan sampai mengangkat Salim sebagai penasehat mereka dalam Konferensi Buruh se-Dunia di Jenewa, Swiss. Di Jenewa inilah Salim memberikan pidatonya mengenai kondisi para buruh di tanah jajahan Hindia Belanda.
Pidato Salim saat itu membuka mata banyak negara lain, seperti Amerika Serikat (AS) yang kemudian meninjau kembali politik perdagangan mereka dengan Belanda. AS akhirnya tidak mau lagi membeli hasil perkebunan dari Hindia Belanda.
“Hal ini membuat pemerintah Hindia Belanda kemudian mengubah politik kolonialismenya dengan menghapus peraturan kerja paksa poenale sanctie (mempekerjakan kuli kontrak dengan bayaran kecil) dan erfpacht (merangsang perusahaan dari Eropa untuk membangun usahanya di tanah jajahan dengan memberikan sewa tanah selama 75 tahun,” tulis Mochtar.
Ditulis oleh Mochtar, bentuk penyiksaan lain yang dijalankan oleh pemerintah Hindia Belanda yakni dikenal dengan herendienst atau kerja paksa. Rakyat di Sumatra Selatan misalnya dilaporkan dipaksa bekerja keras untuk untuk membangun jalan raya.