Mbah Mutamakkin

Ulama Peletak Fondasi Kajen sebagai Pusat Keilmuan dan Pemberdayaan Masyarakat

tokoh | 05 Juli 2025 07:57

Ulama Peletak Fondasi Kajen sebagai Pusat Keilmuan dan Pemberdayaan Masyarakat
Makam Mbah Ahmad Mutamakkin Kajen, Pati. (dok nuonline)

PATI, PustakaJC.co – Haul Mbah Ahmad Mutamakkin yang digelar setiap awal Muharram di Kajen, Margoyoso, Pati, bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, haul ini adalah momentum mengenang jejak besar sang ulama dalam membangun tradisi ilmu, pesantren, dan pemberdayaan masyarakat.

Mbah Mutamakkin bukan hanya waliyullah penuh karomah. Ia adalah pengader ulung, arsitek budaya, dan peletak dasar ekonomi umat yang dampaknya masih terasa hingga kini. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (5/7/2025).

“Beliau itu ulama pengader dan visioner,” ujar Zuli Rizal, Ketua Pemandu Museum Mbah Mutamakkin.

Dikenal dengan dakwah kulturalnya, Mbah Mutamakkin menyisipkan nilai-nilai Islam dalam cerita rakyat seperti Dewaruci, bahkan menggunakan media wayang suket. Pendekatan ini mampu menyentuh hati masyarakat tanpa benturan.

Ia mendirikan masjid dan pesantren di Kajen bersama mertuanya, Mbah Syamsuddin, lalu mengembangkan pusat pengajaran agama dan kehidupan.

 

“Beliau itu tidak hanya ngajari ngaji, tapi juga memberdayakan masyarakat – baik sektor perdagangan maupun pertanian,” terang Jamal Ma’mur Asmani, Dosen IPMAFA sekaligus Wakil Ketua PCNU Pati.

Jejak dakwah dan pendidikan Mbah Mutamakkin diteruskan oleh para dzuriyah dan muridnya. Putra-putrinya seperti Mbah Hendrokusumo, Nyai Alfiyah (Nyai Godheg), dan Mbah Bagus menjadi waliyullah. Keturunannya termasuk ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz (Rais ‘Aam PBNU), KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha’), dan KH Said Aqil Siroj.

“(Generasi penerusnya) mendirikan lembaga pendidikan dan kesehatan. Dari mereka lahir tokoh-tokoh nasional yang luar biasa,” jelas Zuli.

Salah satu peninggalan paling monumental adalah Masjid Kajen dan Perguruan Islam Matholi’ul Falah yang didirikan oleh Mbah Abdussalam, cucu Mbah Mutamakkin.

Zuli menyebut, pertumbuhan ekonomi masyarakat Kajen sangat dipengaruhi oleh banyaknya peziarah ke makam Mbah Mutamakkin.

 “Hal ini mendorong warga menjadi pedagang, dan sektor ekonomi pun berkembang,” tambah Ketua Pemandu Museum Mbah Mutamakkin.

Kekuatan visi ini terlihat pula dari dua muridnya: Mbah Ronggo Kusumo di Ngemplak Kidul yang menggerakkan sektor perdagangan, dan Mbah Mizan di Margotuhu yang membina petani dan sistem irigasi.

“Ini semua tidak lepas dari visi besar Mbah Mutamakkin sebagai pemberdaya umat,” tegas Jamal.

Haul Mbah Mutamakkin bukan sekadar ziarah, tapi refleksi tentang bagaimana ilmu, dakwah kultural, dan pemberdayaan ekonomi bisa berpadu harmonis dalam membangun masyarakat. Kajen hari ini adalah buah dari akar kuat itu.

 

“Saya harap Kajen jadi pencetak kader pemimpin yang membawa cahaya di daerah masing-masing,” tutup Zuli Rizal. (ivan)