SURABAYA, PustakaJC.co - Dunia politik Amerika Serikat tengah menyorot tajam nama Zohran Mamdani, sosok muda yang berhasil menembus tembok sejarah dengan menjadi Wali Kota Muslim pertama sekaligus termuda di New York City.
Kemenangan Mamdani bukan hanya soal pergantian kepemimpinan, melainkan simbol perubahan arah politik kota terbesar di AS itu — dari dominasi arus lama menuju wajah baru politik progresif yang lebih inklusif dan berani.
Dilansir The Associated Press, Minggu (9/11/2025), kemenangan Mamdani disebut sebagai hasil dari kampanye akar rumput yang kuat, strategi media sosial yang cerdas, serta dukungan luas dari generasi muda dan komunitas minoritas. Dengan gaya kepemimpinan yang terbuka dan tutur yang tajam, Mamdani dikenal sebagai politisi yang tak segan menyuarakan isu-isu keadilan sosial, hak pekerja, dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
“Ini bukan hanya kemenangan saya, tapi kemenangan bagi seluruh warga yang percaya bahwa New York harus jadi kota untuk semua,” ujar Mamdani dalam pidato kemenangannya di hadapan ribuan pendukung yang bersorak penuh haru.

Latar Belakang: Akademisi, Seniman, dan Akar Multikultural
Lahir pada 18 Oktober 1991 di Kampala, Uganda, Zohran Kwame Mamdani tumbuh dalam keluarga yang sarat nilai intelektual dan seni. Ayahnya, Mahmood Mamdani, adalah profesor terkemuka di bidang antropologi dan ilmu politik. Sementara ibunya, Mira Nair, merupakan sutradara film kenamaan asal India yang sukses besar lewat film Monsoon Wedding.
Masa kecilnya dihabiskan berpindah-pindah antara Kampala, Delhi, dan New York. Lingkungan lintas budaya inilah yang membentuk pandangan hidupnya: bahwa keadilan dan empati sosial tidak mengenal batas negara, agama, atau ras. “Saya dibesarkan untuk percaya bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman,” tulis Mamdani dalam salah satu unggahan lamanya di media sosial.
Pendidikan dan Awal Ketertarikan Politik
Pendidikan formal Mamdani dimulai di Bronx High School of Science, salah satu sekolah menengah paling bergengsi di New York. Ia kemudian melanjutkan studi ke Bowdoin College, Maine, dan lulus pada 2014 dengan gelar sarjana bidang Africana Studies.
Di masa kuliah, ia aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa yang menyoroti ketimpangan ekonomi dan diskriminasi rasial. Dari sanalah ia menemukan arah perjuangannya — menempatkan pemerintah sebagai garda terdepan dalam menciptakan keadilan sosial.
“Negara tidak boleh sekadar menjadi pengamat pasar bebas. Ia harus hadir untuk memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama,” tegasnya dalam sebuah wawancara dengan BBC.
Aktivisme dan Jalan Menuju Politik
Sebelum memasuki dunia politik, Mamdani bekerja sebagai konselor pencegahan penyitaan rumah (foreclosure prevention counselor) di Queens. Di sana, ia membantu warga berpenghasilan rendah agar tidak kehilangan rumah akibat krisis ekonomi. Pengalaman itu membuka matanya pada realitas keras kehidupan warga New York yang berjuang di tengah mahalnya biaya hidup.
Selain bekerja, ia juga aktif di Democratic Socialists of America (DSA) — kelompok progresif yang memperjuangkan layanan publik gratis dan kebijakan ekonomi yang lebih adil. Pada tahun 2019, Mamdani mencalonkan diri sebagai anggota New York State Assembly District 36, mewakili kawasan Astoria dan Long Island City.
Hasilnya mencengangkan. Pada pemilu 2020, ia mengalahkan petahana lima periode dengan kampanye yang sepenuhnya didanai masyarakat. Dari sinilah, namanya mulai dikenal luas sebagai simbol generasi baru politik New York.
Pro-Palestina dan Suara Keberanian
Sikap politik Zohran Mamdani terhadap isu Palestina menjadi salah satu hal yang paling menonjol. Dalam berbagai kesempatan, ia lantang menyebut agresi Israel di Gaza sebagai bentuk genosida. Pada Oktober 2024, melalui akun X pribadinya, ia menulis:
“Saya akan selalu jelas dalam bahasa saya dan berdasarkan fakta: Israel sedang melakukan genosida.”
Sebagai pendukung gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS), Mamdani menyerukan boikot terhadap entitas yang berafiliasi dengan Israel. Bahkan dalam wawancara dengan jurnalis Mehdi Hasan, ia sempat membuat pernyataan mengejutkan:
“Sebagai Wali Kota, saya akan menangkap Netanyahu jika datang ke New York. Ini adalah kota yang nilainya sejalan dengan hukum internasional.”
Kemenangan Mamdani dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat melawan mantan Gubernur Andrew Cuomo menjadi titik balik politik AS. Ia bukan hanya memenangkan suara, tetapi juga memenangkan hati generasi muda yang haus akan perubahan.
Namun, kemenangan tersebut memancing reaksi keras dari Presiden AS Donald Trump. Melalui akun Truth Social-nya, Trump mencemooh Mamdani sebagai “komunis gila 100 persen”. Meski demikian, cibiran itu justru memperkuat dukungan terhadap Mamdani di kalangan progresif.
Sosok Pribadi dan Kehidupan Keluarga
Di luar politik, Mamdani dikenal sederhana dan dekat dengan warga. Awal tahun 2025, ia menikah dengan Rama Duwaij, seorang seniman keturunan Suriah yang tinggal di Brooklyn. Pasangan ini kerap tampil bersama dalam kegiatan sosial dan seni yang mempromosikan keberagaman budaya.
Keduanya dikenal aktif menggalang dukungan untuk komunitas imigran dan pekerja seni lokal. “Kami percaya bahwa seni dan politik bisa berjalan beriringan dalam membangun empati dan solidaritas,” ujar Rama dalam sebuah wawancara.
Simbol Harapan Baru
Kini, Zohran Mamdani bukan hanya pemimpin muda dengan visi besar, tapi juga simbol perlawanan terhadap ketidakadilan global. Dengan latar belakang multikultural, rekam jejak aktivisme sosial, dan keberanian bersuara untuk Palestina, Mamdani menginspirasi banyak anak muda di seluruh dunia.
Dari Kampala hingga New York, perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa keberanian untuk bersuara — meski melawan arus — bisa mengubah sejarah. (int)