PROBOLINGGO, PustakaJC.co – Bagi KH Moh Zuhri Zaini, pesantren bukan sekadar ruang belajar kitab atau pusat ritual keagamaan. Lebih dari itu, pesantren adalah poros dakwah kehidupan yang menyentuh seluruh sendi umat, dari spiritualitas hingga kemandirian ekonomi.
Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kiai Zuhri menempatkan dakwah sebagai misi besar pesantren yang harus hadir secara nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, dakwah tidak boleh berhenti di mimbar, tetapi harus menjelma dalam tindakan sosial, budaya, dan ekonomi. Dilansir dari antaranews.com, Minggu, (18/1/2026).
“Dakwah itu luas. Ia mencakup ritual, spiritual, sosial, ekonomi, bahkan budaya dan politik,” tegas Kiai Zuhri dalam halaqah alumni rangkaian Haul Masyayikh dan Harlah ke-77 Ponpes Nurul Jadid, Sabtu, (17/1/2026).
Pandangan itu bukan tanpa dasar. Kiai Zuhri kerap merujuk keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pedagang sukses yang menjadikan harta sebagai sarana perjuangan dakwah. Nilai tersebut, menurutnya, juga diwariskan oleh pendiri Ponpes Nurul Jadid, KH Zaini Mun’im.
KH Zaini Mun’im dikenal sebagai pebisnis tembakau yang tangguh. Dari hasil usaha itulah, masjid pertama di Pesantren Nurul Jadid dibangun. Bagi Kiai Zuhri, kisah itu adalah pelajaran penting bahwa kemandirian ekonomi adalah fondasi kekuatan dakwah.
Ia bahkan mengutip semboyan klasik yang lugas, “Laisa ‘indal fulus fahuwa manfus”, sebuah pengingat bahwa tanpa ekonomi, gerak perjuangan akan tersendat.
Tak hanya soal ekonomi, Kiai Zuhri juga dikenal menekankan dakwah kultural yang bijak. Ia mencontohkan bagaimana KH Zaini Mun’im mengubah tradisi sesajen di sawah menjadi tumpengan yang disertai doa Yasin dan Tahlil, tanpa memutus akar budaya masyarakat.
“Perubahan dilakukan dengan hikmah, bukan dengan amarah apalagi kekerasan,” ujarnya.
Dalam bidang pendidikan, Kiai Zuhri melanjutkan warisan intelektual pesantren dengan mempertahankan kurikulum terpadu. Pesantren Nurul Jadid sejak awal menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum, jauh sebelum konsep pendidikan integratif menjadi arus utama nasional.
Di hadapan alumni dari berbagai negara, Kiai Zuhri juga tampil sebagai figur pengingat. Ia menegaskan agar halaqah alumni tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan ruang lahirnya keputusan nyata dan gerakan lanjutan.
“Alumni tetaplah santri. Jangan pernah menjadi mantan santri,” selorohnya, disambut khidmat para peserta.
Bagi Kiai Zuhri Zaini, pesantren bukan hanya tempat lahirnya santri, tetapi ruang pembentukan karakter, etos perjuangan, dan keberpihakan pada umat. Sebuah dakwah yang hidup—dari pesantren, untuk peradaban. (ivan)