Kartini 2026 Berdaya Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Henggar Sulistiarto : Perempuan sebagai Penggerak dan Penjaga Harmoni

tokoh | 23 April 2026 17:53

Henggar Sulistiarto : Perempuan sebagai Penggerak dan Penjaga Harmoni
Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setdaprov Jawa Timur, R. Henggar Sulistiarto.

SURABAYA, PustakaJC.co – Hari Kartini bukan sekadar penanda sejarah, melainkan momentum untuk menegaskan kembali arah. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, perempuan hari ini tidak lagi berdiri di belakang. Mereka hadir di garis depan, menjadi penentu laju pembangunan.

 

Kepala Biro Administrasi Pembangunan (AP) Setdaprov Jawa Timur, R. Henggar Sulistiarto, memandang Kartini masa kini sebagai sosok yang tangguh, adaptif, dan memiliki pijakan nilai yang kuat. Bagi dia, perempuan bukan sekadar bagian dari sistem—melainkan penggerak utama di dalamnya.

 

“Di era transformasi digital, perempuan bukan lagi sekadar pendukung. Mereka adalah engine of growth,” tegas Henggar kepada PustakaJC.co, Kamis (23/4/2026).

 

Ia melihat secara nyata bagaimana perempuan di Jawa Timur mengambil peran strategis: menggerakkan ekonomi melalui UMKM, terlibat dalam pengambilan kebijakan, hingga menjaga keseimbangan sosial di tengah dinamika pembangunan. Kartini hari ini, menurutnya, adalah tentang keberanian mengambil pilihan dan konsistensi dalam memberi dampak.

 

Namun, kekuatan itu, lanjutnya, tidak berdiri di ruang kosong. Ada fondasi nilai yang menjadi penopang utama—integritas dan empati.

 

“Dalam keluarga, perempuan adalah perekat moral. Di ruang sosial, empati mereka melahirkan solusi yang lebih tajam sekaligus humanis,” ujarnya.

 

 

Bagi Henggar, pemahaman itu tidak lahir dari teori, melainkan dari pengalaman hidup. Ia menyebut dua sosok yang membentuk cara pandangnya: ibu dan istrinya.

 

“Ibu adalah sekolah pertama. Dari beliau saya belajar ketangguhan tanpa banyak kata. Sementara istri saya adalah jangkar yang menjaga keseimbangan di tengah tuntutan pekerjaan,” tuturnya.

 

Di tengah ritme kerja pemerintahan yang padat, ia mengakui ada kekuatan yang kerap tak terlihat, namun sangat menentukan—dukungan keluarga. Stabilitas di rumah, menurutnya, menjadi fondasi bagi ketegasan dalam mengambil keputusan.

 

“Istri menjaga stabilitas emosi. Dari situ, fokus dan energi tetap terjaga,” katanya.

 

 

Ia menegaskan, keharmonisan bukan soal kuantitas waktu, melainkan kualitas kehadiran. Prinsip quality over quantity menjadi pijakan—hadir sepenuhnya, meski dalam waktu yang terbatas.

 

Dalam kepemimpinan, Henggar memandang perempuan sebagai mitra sejajar. Bahkan, ia menilai banyak pemimpin perempuan memiliki ketelitian, ketegasan, dan sensitivitas sosial yang justru menjadi keunggulan dalam merumuskan kebijakan publik.

 

“Perempuan hari ini tidak hanya sejajar, tapi juga mampu memimpin dengan perspektif yang lebih utuh,” tegas pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang ini.

 

 

Di momen Kartini, ia menyampaikan pesan yang lugas: perempuan harus terus melangkah maju tanpa ragu, tanpa membatasi diri pada stigma lama. Potensi harus diasah, ruang harus diambil, dan kontribusi harus diperluas.

 

Jika R.A. Kartini hidup hari ini, menurutnya, perjuangan belum selesai. Kesetaraan akses pendidikan, ruang kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi, hingga perlindungan dari kekerasan berbasis gender masih menjadi tantangan nyata.

 

Henggar pun menaruh harapan besar pada generasi muda perempuan—untuk tidak sekadar menjadi bagian dari perubahan, tetapi menjadi pengarahnya.

 

“Jadilah change makers. Perempuan yang berpikir merdeka, berkarakter kuat, dan percaya pada jati dirinya,” pungkasnya.

 

Hari Kartini hari ini bukan lagi tentang mengenang. Ini tentang memastikan perjuangan itu terus hidup—dalam langkah yang pasti, keputusan yang berani, dan peran nyata perempuan Indonesia di masa depan. (ivan)