Roosseno Soerjohadikoesoemo

Insinyur Legendaris! Sosok di Balik Monas hingga Istiqlal Ternyata “Bapak Beton” Indonesia

tokoh | 05 Mei 2026 09:51

Insinyur Legendaris! Sosok di Balik Monas hingga Istiqlal Ternyata “Bapak Beton” Indonesia
Dok wikipedia

SURABAYA, PustakaJC.co - Siapa sangka, sosok di balik megahnya Monumen Nasional hingga kokohnya Masjid Istiqlal adalah seorang insinyur pribumi yang dijuluki “Bapak Beton Indonesia”. Dialah Roosseno Soerjohadikoesoemo, tokoh besar yang jasanya masih terasa hingga kini.

 

Sejak kecil, Roosseno sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia teknik. Ia terinspirasi saat melihat jembatan yang tetap berdiri kokoh meski dilalui kereta. Mimpi itu membawanya menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (dulu Technische Hoogeschool te Bandoeng) dan lulus pada 1932 dengan predikat cumlaude.

 

Tak hanya cerdas, Roosseno juga termasuk segelintir pribumi yang berhasil menyelesaikan pendidikan teknik saat itu. Dari 10 lulusan, hanya dua orang pribumi, menjadikannya sosok yang sangat langka sekaligus membanggakan di masa kolonial.

 

Julukan “Bapak Beton Indonesia” disematkan karena kontribusinya dalam mengembangkan teknologi beton bertulang dan beton prategang di Tanah Air. Ia terlibat dalam berbagai proyek monumental seperti Hotel Indonesia, Gedung Sarinah, Gelora Bung Karno, hingga Jembatan Semanggi.

 

Tak berhenti di situ, perannya juga terlihat dalam pembangunan Gedung DPR/MPR hingga pemugaran Candi Borobudur. Kontribusinya ini membuat pemerintah menganugerahkan berbagai penghargaan, termasuk Satyalancana pada 1962 dan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Soeharto.

 

Di dunia pendidikan, Roosseno bahkan dijuluki sebagai “bapaknya” fakultas teknik di tiga kampus besar Indonesia: Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung. Ia menjadi profesor pribumi pertama di teknik sipil ITB dan berperan besar dalam memindahkan serta membangun cikal bakal Fakultas Teknik UGM di Yogyakarta.

 

Tak hanya itu, pada 1964, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Dekan pertama Fakultas Teknik UI. Ia juga mendirikan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), menjadikannya pelopor pendidikan teknik swasta di Indonesia.

 

Selain akademisi, Roosseno juga aktif di pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perhubungan, menunjukkan kiprahnya yang luas di bidang pembangunan nasional.

 

Roosseno wafat pada 15 Juni 1996, namun namanya tetap abadi sebagai tokoh besar di balik kemajuan konstruksi Indonesia. Bahkan, jasanya diabadikan dalam perangko nasional pada 2003. (int)