Hadipras

Otoritas Angka Melawan Otentisitas Rasa

tokoh | 14 Mei 2026 10:27

Logika tanpa kekuasaan adalah perlawanan ontologis rakyat. Pemerintah boleh saja memonopoli data, tetapi rakyat dan para intelektual yang jernih memonopoli 'makna'. Di sinilah letak pertempuran antara dalil kekuasaan dengan dalil kehidupan—yang didasari pada ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang nyata.

Secara ontologis, apa yang dianggap riil oleh rakyat? Bagi penguasa, realitas adalah pertumbuhan PDB. Bagi rakyat, yang riil adalah daya beli. Realitas rakyat bersifat "daging-darahan", bukan angka abstrak yang menari di layar presentasi.

Secara epistemologis, bagaimana mereka tahu ekonomi sedang baik atau buruk? Mereka tidak mengetahuinya dari infografis berwarna cerah, melainkan dari pengalaman inderawi di pasar. Mereka tahu ekonomi sedang sakit lewat cerita tetangga yang terkena PHK atau lewat tagihan listrik yang mencekik. Ini adalah cara mengetahui yang jauh lebih jujur daripada metode sensus manapun.

Secara aksiologi, apa yang berharga? Bukan pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati oleh segelintir elit, melainkan keadilan dan rasa aman untuk esok hari. Maka, ketika pemerintah bernyanyi tentang 5,61%, rakyat menjawab dengan satu kata ringkas dan tajam: "Prèt!"