Hadipras

Otoritas Angka Melawan Otentisitas Rasa

tokoh | 14 Mei 2026 10:27

Suara "Prèt" itu bukan sekadar kejengkelan versi gaul. Ia adalah tesis tandingan dari "proletar berjas" dan masyarakat grass root yang merasa menjadi yatim piatu di negeri sendiri. Data menunjukkan jumlah kelas menengah menyusut drastis, berganti menjadi "calon kelas menengah" yang rentan. Logika kehidupan mereka mengatakan: jika tabungan makin tipis dan cicilan makin mencekik, maka pertumbuhan 5,61% itu hanyalah dongeng pengantar tidur.

Legitimasi politik seharusnya lahir dari perceived needs (kebutuhan yang dirasakan langsung), bukan dari asumsi-asumsi yang dibangun oleh kekuasaan. Kekuasaan seringkali bebal dengan berasumsi bahwa jika makroekonomi tumbuh, maka rakyat otomatis sejahtera. Asumsi ini cacat sejak dalam pikiran.

Data menunjukkan pertumbuhan saat ini banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan proyek-proyek mercusuar. Namun bagi UMKM yang orderannya merosot dan buruh yang upahnya tak naik, atau terkena PHK, itu bukan solusi. Ketika wakil rakyat mulai kehilangan simpati dan empati, sibuk memoles angka sambil menutup telinga dari jeritan di pasar becek, maka legitimasi itu sedang retak. Legitimasi yang hanya dipaksakan melalui narasi post-truth akan menemui ajalnya saat realitas dapur tak lagi bisa dikompromi.