Inilah tragedi kita: jarak antara istana yang kedap suara dan pasar yang pengap kini melebar menjadi jurang. Post-truth tumbuh subur dari dua arah—yang satu memanipulasi untuk berkuasa, yang lain luka lalu membangun kebenarannya sendiri untuk bertahan hidup.
Jadi, mari kita rayakan angka 5,61% ini dengan gegap gempita. Mari kita suapi anak-anak kita dengan fotokopi rilis pers tentang Purchasing Managers' Index (PMI) yang ekspansif, siapa tahu rasa lapar mereka bisa terobati oleh optimisme makro. Siapa yang butuh daya beli riil kalau kita punya angka statistik yang mempesona? Siapa yang butuh tabungan masa depan kalau kita punya narasi "bright spot" yang menenangkan jiwa?
Pertumbuhan itu memang nyata. Ia nyata bagi mereka yang melihat dunia dari balik kaca mobil mewah yang gelap. Namun bagi kita yang masih menghitung recehan di akhir bulan, pertumbuhan itu hanyalah mitos perkotaan yang indah. Sebuah kidung yang dinyanyikan agar kita tidak gaduh saat daya beli kita perlahan mati suri.