Namun, bisakah rakyat juga melakukan post-truth? Jawabannya: bisa, namun dengan cara yang sangat tragis.
Jika post-truth penguasa adalah manipulasi fakta demi citra, maka post-truth rakyat adalah mekanisme pertahanan diri. Ketika perut keroncong di tengah kabar ekonomi yang katanya "ekspansif", ketika harga beras, minyak goreng, dan telur mendaki saat inflasi diklaim "terkendali", rakyat mulai membangun narasinya sendiri. Mereka menolak angka-angka resmi bukan karena tidak paham matematika, melainkan karena angka tersebut berkhianat terhadap isi dompet mereka.
Apakah itu kebohongan? Tidak. Itu adalah "kebenaran subjektif" yang lahir dari keputusasaan. Rakyat melakukan post-truth sebagai bentuk protes; mereka menciptakan realitas tandingan karena realitas resmi terasa asing dan menyakitkan. Di titik ini, ironi terbesar hadir: kebenaran yang dirasakan oleh tubuh lebih otentik daripada tabel-tabel BPS, namun dalam panggung politik, yang selalu dimenangkan adalah tabel.