SURABAYA, PustakaJC.co - Mustasyar PBNU, KH Ahmad Mustofa Bisri menegaskan bahwa seorang pemimpin, pejabat, maupun penguasa harus memiliki sikap rendah hati, lemah lembut, dan penuh belas kasih kepada rakyat yang dipimpinnya.
Hal itu disampaikan Gus Mus saat mengaji Kitab Riyadhus Shalihin yang dikutip dari nu.or.id, Sabtu, (23/5/2026).
“Adabnya pemimpin itu harus rendah hati kepada yang dipimpin,” ujar Gus Mus.
Pengasuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menjelaskan, sikap rendah hati seorang pemimpin merupakan perintah langsung Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’ara ayat 215:
“Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang Mukmin.”
Menurutnya, Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan nyata bagaimana seorang pemimpin menghormati dan memuliakan rakyatnya. Bahkan saat bersama para sahabat, Rasulullah justru mempersilakan para sahabat berjalan di depan.
“Kanjeng Nabi yang dengan pengikutnya sangat rendah hati. Kalau keluar dengan sahabat, sahabat yang disuruh di depan. Kalau sekarang kan gak mau didahului,” katanya.
Gus Mus menilai, sosok pemimpin yang rendah hati kini semakin sulit ditemukan. Sebab, banyak pemimpin justru cenderung merendahkan rakyat yang dipimpinnya.
“Biasanya tidak sekarang, pemimpin merendahkan yang dipimpin, tidak merendahkan hati kepada yang dipimpin,” ujarnya.
Menurut Gus Mus, sikap rendah hati tidak akan mengurangi kewibawaan seorang pemimpin. Justru sebaliknya, rakyat akan mencintai pemimpinnya dengan tulus dan menjalankan kebijakan dengan kesadaran sendiri, bukan karena tekanan.
“Kalau pemimpin bisa meniru Kanjeng Nabi pasti rakyatnya sangat mencintainya. Tidak perlu disentak-sentak,” tegasnya.
Selain itu, Gus Mus juga menyoroti peran orang-orang kepercayaan pejabat yang terkadang justru membuat jarak antara pemimpin dan rakyatnya. Ia menilai, informasi yang tidak utuh dari lingkungan sekitar pemimpin bisa membuat pejabat semakin jauh dari kondisi masyarakat.
“Tangan kanannya itu yang kadang membuat pimpinan atau pejabat besar kepala,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus juga mengingatkan pentingnya sifat adil dan ihsan dalam kepemimpinan. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu berlaku adil terlebih dahulu sebelum mencapai derajat ihsan atau berbuat lebih baik kepada rakyatnya.
“Ihsan itu di atas adil. Kalau kamu tidak bisa adil, apalagi dengan ihsan, tambah gak bisa,” jelasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Rembang itu menegaskan bahwa seluruh pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.
“Jangan enak-enak kepingin dipilih, pas dipilih terus lupa dengan rakyatnya, celaka itu. Nanti dimintai pertanggungjawaban,” pungkasnya. (ivan)