Menurut Gus Awis, seorang mufasir wajib menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari bahasa Arab, ilmu hadis, usul fikih, hingga sejarah tafsir. Bekal keilmuan tersebut menjadi syarat penting agar penafsiran tetap berada dalam koridor syariat.
Ia juga memandang sejarah tafsir sebagai bagian penting dari perkembangan intelektual Islam. Sejarah, menurutnya, menjadi cermin untuk memahami perjalanan pemikiran para ulama sekaligus pijakan dalam mengembangkan metode tafsir yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui karya dan pemikirannya, Gus Awis dikenal sebagai sosok ulama yang berhasil menjaga warisan keilmuan Islam tanpa menutup diri terhadap dinamika masyarakat modern. Pemikirannya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengembangkan tradisi intelektual Islam dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah. (ivan)