SURABAYA, PustakaJC.co – Nama Mansyur HB menjadi salah satu sosok pelukis yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia seni rupa Indonesia. Lahir di tengah gejolak Revolusi Kemerdekaan, ia mampu bertahan dan terus berkarya melewati tiga periode pemerintahan, yakni Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi.
Mansyur HB lahir pada Juni 1946 di Kediri ketika sang ibu, Salma Saghimah, tengah mengungsi akibat perang mempertahankan kemerdekaan. Ayahnya, Hasan Basri, merupakan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang sempat terlibat dalam perjuangan melawan pasukan Sekutu sebelum kembali bekerja sebagai tukang sol sepatu di Surabaya. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (31/7/2026).
Kondisi perang membuat ibunya harus berpindah-pindah tempat dengan menumpang truk saat sedang mengandung. Pengalaman itu, menurut Mansyur, turut memengaruhi kondisi fisiknya sejak lahir. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena tangan kanannya berkembang sempurna dan menjadi alat utama yang mengantarkannya menorehkan ribuan karya seni.
Sejak kecil, Mansyur tumbuh dalam lingkungan religius. Ia belajar mengaji kepada orang tuanya, kemudian berguru kepada KH Ridwan Abdullah, ulama yang dikenal sebagai pencipta lambang Nahdlatul Ulama. Di lingkungan pesantren itulah kecintaannya terhadap dunia lukis mulai berkembang.
Bakat tersebut semakin terasah ketika ia belajar kepada pelukis naturalis Surabaya, M. Sochieb. Bahkan, Mansyur sempat menjadi asisten sang maestro dan banyak menyerap teknik melukis bergaya naturalis yang kemudian menjadi ciri khas karya-karyanya.
Memasuki dekade 1960-an, Mansyur turut ambil bagian dalam pameran seni rupa yang digelar bersamaan dengan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) di Bandung pada 1965. Bersama sejumlah pelukis berlatar belakang NU, ia ikut memperkenalkan karya seni bernuansa keislaman kepada para peserta konferensi internasional tersebut.
Setelah pameran di Bandung, Mansyur bersama rekan-rekannya juga mengikuti pameran keliling di berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang, hingga Tulungagung. Aktivitas itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni rupa di lingkungan warga NU.
Pada era 1970-an, Mansyur sempat meninggalkan dunia lukis untuk berkarier sebagai fotografer Majalah Selecta di Jakarta. Selama menjadi fotografer, ia banyak mengabadikan tokoh-tokoh hiburan nasional, termasuk artis terkenal pada masanya, serta berkesempatan melakukan peliputan ke luar negeri.
Setelah majalah tersebut berhenti terbit pada pertengahan 1980-an, Mansyur kembali menekuni dunia seni lukis. Ia tetap konsisten mempertahankan aliran naturalis yang telah dipelajarinya sejak muda.
Tema laut menjadi salah satu ciri kuat karya-karya Mansyur. Kehidupan nelayan, pesisir, dan kekayaan maritim Indonesia berulang kali hadir dalam lukisannya. Ketertarikan itu diwujudkan melalui pameran tunggal bertajuk “Citra Bahari dalam Goresan Warna” pada 2017 yang menampilkan puluhan karya hasil perjalanan kreatifnya selama lebih dari tiga dekade.
Pengamat seni Agus Dermawan menilai Mansyur sebagai salah satu sedikit pelukis Indonesia yang secara konsisten mengangkat tema kelautan. Di tengah dominasi karya bertema sosial, politik, maupun potret manusia, Mansyur justru menghadirkan laut sebagai ruang ekspresi yang memperlihatkan kekayaan budaya maritim Indonesia.
Kini, meski usianya telah mendekati 80 tahun, Mansyur HB masih aktif melukis di galeri sekaligus kediamannya di kawasan Ciledug, Tangerang. Semangat berkaryanya menjadikan dirinya sebagai saksi perjalanan seni rupa Indonesia lintas generasi, sekaligus membuktikan bahwa dedikasi terhadap seni tidak mengenal batas usia. (ivan)