Tokoh Pemikir Islam dan Gagasan Kebangkitan Peradaban

Malik Bennabi dan Gagasan Kebangkitan Peradaban Islam

tokoh | 22 Agustus 2026 17:32

Malik Bennabi dan Gagasan Kebangkitan Peradaban Islam
Malik Bennabi. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co – Malik Bennabi merupakan salah satu pemikir Muslim asal Aljazair yang banyak membahas persoalan kemunduran dan kebangkitan peradaban Islam. Pemikirannya tetap relevan untuk melihat bagaimana umat Islam membangun kemandirian, kualitas manusia, dan kekuatan sosial di tengah perubahan zaman.

 

Malik Bennabi lahir dan tumbuh dalam lingkungan Aljazair yang berada di bawah kolonialisme Prancis. Pengalaman tersebut kemudian membentuk perhatian intelektualnya terhadap persoalan masyarakat Muslim, kolonialisme, serta faktor-faktor yang menyebabkan suatu bangsa mengalami keterbelakangan. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (22/8/2026).

 

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Prancis dan berinteraksi dengan berbagai pemikiran yang berkembang di Eropa. Bennabi juga pernah tinggal di Mesir sebelum kembali ke Aljazair setelah negara tersebut meraih kemerdekaan.

 

Pengalaman hidup di dunia Islam dan Eropa membuat Bennabi tidak hanya melihat kolonialisme sebagai persoalan antara penjajah dan bangsa yang dijajah. Ia juga mempertanyakan kondisi internal masyarakat yang membuat suatu bangsa mudah kehilangan kemandiriannya.

 

 

Dalam pemikirannya, salah satu persoalan utama dunia Islam adalah hilangnya visi dan tujuan bersama. Masyarakat Muslim dinilai menghadapi berbagai persoalan sosial, seperti melemahnya tanggung jawab kolektif, korupsi, hilangnya keteladanan, serta rendahnya etos kerja.

 

Bennabi kemudian memperkenalkan gagasan al-qabiliyyah lil isti’mar, yaitu kondisi internal yang membuat sebuah masyarakat memiliki kerentanan untuk dijajah. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengusir penjajah.

 

Kemerdekaan politik, menurut pemikiran Bennabi, perlu diikuti dengan kemerdekaan dalam cara berpikir, pendidikan, ekonomi, karakter, dan kemampuan menentukan arah masa depan sendiri.

 

Karena itu, perubahan harus dimulai dari manusia. Bennabi memandang pribadi manusia sebagai unsur penting dalam setiap persoalan sosial. Masyarakat yang kuat membutuhkan individu yang memiliki ilmu, tanggung jawab, disiplin, dan semangat untuk bekerja.

 

Pemikiran Bennabi juga menempatkan Islam sebagai kekuatan sosial yang dapat membentuk manusia dan masyarakat. Islam tidak hanya dipahami sebagai ajaran yang dibaca dan dihafalkan, tetapi juga sebagai nilai yang diwujudkan dalam kehidupan sosial.

 

 

Menurut pandangannya, nilai-nilai Al-Qur’an perlu hadir dalam pembentukan karakter, budaya ilmu, etos kerja, hubungan sosial, tata kelola pemerintahan, serta pembangunan masyarakat.

 

Bennabi juga tidak memandang kemajuan teknologi sebagai sesuatu yang harus ditolak. Tantangannya adalah bagaimana umat Islam dapat menghadapi perkembangan teknologi dengan landasan nilai dan tujuan peradaban yang jelas.

 

Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat Muslim berisiko hanya menjadi konsumen teknologi dan penerima gagasan dari peradaban lain tanpa memiliki kemampuan untuk menentukan arah perkembangannya sendiri.

 

Pemikiran Malik Bennabi pada akhirnya mengarah pada satu pesan penting, bahwa kebangkitan peradaban tidak cukup dibangun dengan menyalahkan faktor eksternal. Perubahan juga membutuhkan pembenahan dari dalam masyarakat.

 

 

Gagasan tersebut membuat sosok Malik Bennabi tetap menarik untuk dikaji hingga kini. Pemikirannya mengajak umat Islam melakukan evaluasi terhadap kualitas manusia, pendidikan, ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial sebagai bagian dari upaya membangun kemerdekaan yang lebih bermakna.

 

Dengan demikian, bagi Bennabi, kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan juga berarti terbebas dari kebodohan, ketergantungan, kemalasan, korupsi, dan kehilangan arah dalam menentukan masa depan peradaban. (ivan)