Manusia mengenal kehendak Tuhan melalui wahyu. Sementara wahyu dipahami melalui proses membaca, menafsirkan, dan memahami.
Dengan demikian, pengetahuan manusia tentang wahyu selalu melibatkan kesadaran, bahasa, pengalaman, serta kemampuan manusia dalam memahami teks.
Dari sinilah Hanafi melihat teologi memiliki hubungan erat dengan manusia. Teologi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami firman Tuhan dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan.
Dari Teosentris Menuju Antroposentris
Hanafi kemudian menawarkan rekonstruksi teologi dengan menggeser perhatian dari paradigma yang terlalu teosentris menuju paradigma antroposentris.
Perubahan tersebut bukan berarti menghilangkan Tuhan dari kehidupan manusia. Sebaliknya, Hanafi ingin menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan sejarah.
Dalam pandangannya, keimanan kepada Tuhan seharusnya melahirkan tindakan nyata. Nilai-nilai keagamaan perlu diwujudkan dalam perjuangan menghadapi ketidakadilan, penindasan, dan berbagai persoalan sosial.
Karena itu, teologi tidak cukup berhenti pada perdebatan mengenai konsep-konsep ketuhanan. Teologi juga harus mampu memberikan dorongan bagi manusia untuk bertindak.
Hanafi melihat manusia sebagai subjek sejarah. Manusia memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab untuk mengubah realitas kehidupannya.
Sejarah dengan demikian tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang diterima secara pasif, tetapi juga sebagai ruang bagi manusia untuk memperjuangkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Pemikiran tersebut turut dipengaruhi oleh fenomenologi yang dipelajari Hanafi selama berada di Prancis. Ia kemudian mencoba membaca berbagai tradisi pemikiran tersebut dalam konteks persoalan masyarakat Muslim.