Selain mengajar di Mesir, Hanafi juga pernah memberikan kuliah di sejumlah negara, termasuk Prancis, Belgia, Amerika Serikat, Kuwait, Maroko, Jepang, dan Uni Emirat Arab.
Di luar dunia akademik, ia aktif dalam berbagai organisasi ilmiah dan kemasyarakatan. Gagasannya kemudian berkembang menjadi salah satu bagian penting dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer.
Kritik terhadap Teologi Tradisional
Salah satu perhatian utama Hassan Hanafi adalah bagaimana teologi Islam berhubungan dengan kehidupan manusia.
Menurut Hanafi, teologi tradisional lahir dalam konteks sejarah tertentu. Para teolog pada masa lalu berusaha mempertahankan doktrin Islam dari berbagai pengaruh pemikiran dan kebudayaan yang berkembang ketika itu.
Namun, Hanafi menilai perkembangan tersebut membuat dimensi sejarah dan kehidupan konkret manusia kurang mendapatkan perhatian.
Baginya, teologi tidak lahir di ruang kosong. Pemikiran keagamaan selalu memiliki hubungan dengan kondisi sosial, politik, dan persoalan manusia pada zamannya.
Karena merupakan hasil pemikiran manusia dalam memahami agama, teologi menurut Hanafi dapat dikaji, dikritik, dan direkonstruksi.
Ia juga mempertanyakan pemahaman terhadap ilmu kalam sebagai ilmu tentang Tuhan. Menurut Hanafi, manusia tidak dapat menjadikan Tuhan sebagai objek ilmu sebagaimana manusia mempelajari objek empiris.