SURABAYA, PustakaJC.co – Upaya menjaga keberlanjutan kesenian Reog Ponorogo terus diperkuat melalui pendekatan ilmiah. Akademisi, maestro Reog, pembarong lintas generasi, hingga pelaku seni berkumpul dalam kajian ergonomi Dadak Merak untuk membahas aspek kesehatan, keselamatan, dan regenerasi pelaku seni Reog di Kabupaten Ponorogo.
Kajian yang digelar di Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Ponorogo, merupakan kolaborasi Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama sanggar setempat. Forum ini menjadi langkah konkret memperkuat pelestarian Reog Ponorogo setelah kesenian tersebut mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Pengelola Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Ridzwan Miftahul Aji, mengatakan kajian ergonomi penting karena Dadak Merak tidak hanya dipandang sebagai properti pertunjukan, tetapi juga harus memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan para pembarong yang memikul beban puluhan kilogram saat tampil.
"Kami juga harus memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan para pembarong saat tampil maupun berlatih," ujarnya.