SIDOARJO, PustakaJC.co – Jejak panjang produksi gula tradisional di Jawa diungkap melalui seminar hasil kajian koleksi bertajuk “Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Produksi Gula Tradisional sebagai Warisan Industri” di UPT Museum Mpu Tantular, Buduran, Sidoarjo, Senin, (24/8/2026).
Sebanyak 150 peserta yang terdiri atas akademisi, tenaga ahli, pegiat budaya, serta praktisi permuseuman mengikuti kegiatan tersebut. Seminar digelar sebagai sarana pemaparan hasil kajian koleksi sekaligus untuk memperoleh masukan dan saran dari berbagai pihak. Dilansir dari jatimpos.co, Selasa, (25/8/2026).
Kepala UPT Museum Mpu Tantular Rica Fuspita mengatakan, masukan dari peserta diperlukan untuk menyempurnakan hasil kajian yang telah dilakukan.
“Kita ingin memperoleh masukan, saran, dan penyempurnaan terhadap hasil kajian guna meningkatkan kualitas serta validitas data yang ada,” ujar Rica.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Evy Afianasari melalui Rica menjelaskan, seminar tersebut merupakan tindak lanjut dari kajian koleksi yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya.
Kajian tersebut dilakukan Dr. R. Reza Hudiyanto, M.Hum., dosen Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang, dan Ary Budiyanto, S.S., M.A., dosen Departemen Antropologi Universitas Brawijaya. Keduanya juga hadir sebagai narasumber dalam seminar.
“Jadi memang dilaksanakan oleh Pak Reza dan Pak Ary sehingga pada hari ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik kami laksanakan seminar hasil kajian koleksi ini,” ujarnya.
Jawa Punya Sejarah Panjang Produksi Gula
Salah satu kelompok koleksi penting di Museum Mpu Tantular berkaitan dengan sarana produksi gula tradisional.
Koleksi tersebut tidak hanya merepresentasikan teknologi tradisional masyarakat dalam mengolah tebu menjadi gula, tetapi juga menggambarkan hubungan antara manusia, lingkungan, pengetahuan lokal, serta perkembangan ekonomi dan budaya.
Menurut Evy, kajian mengenai koleksi pergulaan memiliki arti penting karena sejarah gula menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah masyarakat Jawa Timur.
Perkembangan teknologi gula juga berkaitan dengan sejarah interaksi budaya di kawasan Asia. Tanaman tebu telah dikenal di kawasan Asia Tenggara sejak masa awal, sedangkan teknologi pemurnian gula berkembang melalui jaringan perdagangan dan pertukaran pengetahuan yang menghubungkan India, Asia Tenggara, hingga Cina.
Dalam kehidupan masyarakat, gula tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari budaya pangan. Berbagai makanan dan minuman tradisional masyarakat Jawa menggunakan gula sebagai salah satu bahan penting.
Jawa Timur juga menjadi salah satu sentra utama produksi gula nasional. Berdasarkan paparan dalam seminar, petani tebu Jawa Timur disebut mampu menghasilkan sekitar 51 persen produksi gula nasional.
“Jadi rata-rata kurang lebih 10 tahun terakhir itu produksi gula nasional yang dihasilkan dari Provinsi Jawa Timur itu lebih dari 1,3 juta ton per tahun,” ungkapnya.
Sejarah Gula Jawa Lebih Tua dari Pabrik Kolonial
Akademisi Departemen Antropologi FIB Universitas Brawijaya Ary Budiyanto menjelaskan, sejarah gula Jawa selama ini sering dikaitkan dengan perkebunan tebu dan pabrik gula pada masa kolonial.
Padahal, pemanfaatan sumber pemanis di Jawa telah berlangsung jauh sebelum kemunculan industri gula modern.
“Sejarah gula Jawa lebih tua daripada pabrik kolonial,” kata Ary dalam paparannya.
Menurutnya, sejarah tersebut dapat ditelusuri melalui konsep “peradaban nira”, yaitu sistem pengetahuan masyarakat dalam memperoleh, mengolah, menyimpan, dan memanfaatkan sari manis dari berbagai tumbuhan tropis.
Sumber pemanis tersebut tidak hanya berasal dari tebu. Kelapa, aren, lontar atau siwalan, serta nipah juga menjadi bagian dari keragaman sumber nira yang berkembang di Nusantara.
“Peradaban nira” menunjukkan keterkaitan antara ekologi, teknologi pangan, budaya, bahasa, ritual, pengobatan, dan kebiasaan makan masyarakat.
Untuk merekonstruksi sejarah tersebut, kajian dilakukan dengan memadukan berbagai sumber. Di antaranya relief candi, naskah sejarah dan filologi, koleksi teknologi gula di museum, arsip visual, serta etnografi mengenai pemanfaatan gula aren, kelapa, siwalan, dan nipah.
Ary juga menjelaskan bahwa Jawa tidak berdiri sendiri dalam perkembangan teknologi gula. Nusantara berada dalam jaringan pertukaran pengetahuan Asia yang melibatkan mobilitas tanaman, manusia, teknologi, istilah, dan keterampilan.
India disebut menjadi salah satu wilayah yang mengembangkan beragam teknologi pengolahan gula. Jaringan perdagangan dan penyebaran agama Buddha turut menjadi jalur mobilitas pengetahuan menuju sejumlah wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara dan Cina.
Relief Candi Borobudur juga dapat digunakan sebagai salah satu sumber untuk membaca lanskap pangan dan tumbuhan masyarakat Jawa Kuna.
Namun, menurut Ary, pembacaan relief harus dipadukan dengan data botani dan sumber tekstual.
“Relief adalah bukti visual yang dipadukan dengan data botani dan teks,” ujarnya.
Keragaman sumber pemanis tersebut kemudian turut membentuk karakter kuliner Jawa. Gula digunakan dalam berbagai makanan dan minuman, seperti sate, bubur, dawet, pecel, rujak hingga wedang.
Gula juga menjadi bagian dari proses akulturasi budaya. Salah satu contohnya adalah kecap manis yang mempertemukan teknik pengolahan kedelai dari tradisi Cina dengan preferensi rasa manis masyarakat Jawa.
Teknologi Tradisional hingga Industri Gula
Sementara itu, akademisi Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang Dr. Reza Hudiyanto menguraikan perkembangan teknologi produksi gula dari metode tradisional hingga industri pada era kolonial.
Produksi gula tradisional memiliki sejumlah tahapan, mulai dari pemerasan tebu, pemurnian, penguapan, kristalisasi, drainase, hingga pengeringan sebelum gula dipasarkan.
Pada tahap pemerasan, batang tebu diproses menggunakan alat penggiling dengan tenaga sapi untuk menghasilkan cairan nira.
Cairan tersebut kemudian dimurnikan dan dipanaskan menggunakan kawah besi cor dengan bahan bakar kayu sebelum melalui proses kristalisasi.
“Metode tradisional menghasilkan rendemen nira yang sangat rendah serta terbukti boros bahan bakar kayu,” demikian paparan Reza.
Keterbatasan teknologi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong transformasi industri gula.
Perkembangan riset sains, modal swasta, serta efisiensi manajemen membawa industri gula Jawa memasuki periode perkembangan pesat.
Reza mencatat, pada awal abad ke-20 Jawa bahkan berkembang menjadi salah satu produsen gula terbesar dan paling efisien di dunia.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari riset pertanian dan modernisasi teknologi pengolahan.
Paparan Reza juga menunjukkan sejumlah fase perkembangan industri gula Jawa, mulai dari periode awal pembudidayaan, era VOC, Sistem Tanam Paksa 1830, privatisasi setelah 1870, hingga masa keemasan industri gula pada awal abad ke-20.
Dalam Sistem Tanam Paksa, penduduk diwajibkan menyediakan sebagian lahan pertanian yang sesuai untuk tanaman tebu.
Perkembangan industri kemudian mengalami perubahan setelah pemerintah kolonial secara bertahap menarik diri dan sektor swasta mengambil alih sejumlah tahapan produksi.
Koleksi Museum Jadi Sumber Sejarah
Koleksi Museum Mpu Tantular menjadi bagian penting dalam membaca perubahan teknologi produksi gula di Jawa.
Sejumlah benda yang dikaji mencakup alat penggilingan tebu tradisional, lempak, cangkul, kawah, garit, garpu, dan siwur.
Benda-benda tersebut tidak hanya dipandang sebagai artefak, tetapi juga sebagai bagian dari rangkaian teknologi produksi gula yang menunjukkan hubungan antara aktivitas budidaya, panen, ekstraksi, hingga pengolahan.
Melalui kajian tersebut, koleksi museum dapat ditempatkan dalam narasi yang lebih luas mengenai sejarah teknologi, ekonomi, lingkungan, dan budaya pergulaan di Jawa.
Seminar hasil kajian ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Museum Mpu Tantular memperkaya informasi koleksi dan mengembangkan pemanfaatannya untuk kepentingan edukasi, penelitian, publikasi, serta pelestarian warisan industri. (ivan)